4 Tips Jitu Mengembangkan Diri Bagi Seorang Profesional

Sumber: ekrut.com

Saya rasa, semua orang meyakini bahwa pengembangan diri merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Hanya saja, kesadaran take action (melakukan aksi nyata) untuk mengembangkan diri, rasa-rasanya tidak semua orang memilikinya.

Banyak alasan seseorang tak mau melakukan aksi nyata untuk mengembangkan diri, mulai dari tak memiliki waktu luang, tak memiliki kesempatan, hingga tak memiliki cukup uang. Mungkin, masih banyak alasan lainnya, yang tak dapat saya sebutkan lebih detail.

Padahal, kita telah mengetahui bahwa seseorang yang tak mau mengembangkan diri, bisa dipastikan akan tertinggal dari anggota komunitasnya. Dan dirinya, akan menjadi manusia asing dalam komunitasnya.

Maka dari itu, agar kita tidak menjadi manusia asing di antara anggota komunitas yang kita ikuti, memiliki keyakinan untuk mengembangkan diri tidaklah cukup. Akan tetapi, harus diikuti dengan aksi nyata untuk mengembangkan diri.  

Esensinya, Manusia Harus Berkembang

Bila ada yang bertanya, mengapa kita harus mengembangkan diri?

Jawabannya sangat sederhana, esensinya manusia harus berkembang. Bagi yang tidak mau mengembangkan diri, sama saja tidak memahami esensi dari keberadaan dirinya di dunia ini. Sehingga dirinya hanya menjalani aktivitas sehari-hari, sebagai rutinitas seorang manusia.

Bangun di pagi hari, bercengkrama dengan anggota keluarga, berangkat kerja, menyelesaikan pekerjaan di kantor/di tempat usaha, pulang kerja, dan menutup mata untuk beristirahat di malam hari. Begitulah rutinitas yang dilakukan setiap hari, hingga umur yang dimiliki semakin berkurang.

Penyesalan pasti akan datang, setelah kita menyaksikan kualitas kehidupan teman-teman seperjuang lebih baik bila dibandingkan dengan diri kita. Teman-teman seperjuangan telah menikmati buah dari jerihpayahnya. Sementara kita sedang terpuruk dalam penyesalan yang tak mungkin bisa kembali.

Sebelum penyesalan benar-benar datang dalam kehidupan kita, maka sudah selayaknya kita harus memahami bahwa esensi keberadaan manusia di muka bumi ini adalah berkembang. Dengan memahaminya, maka akan timbul semangat untuk selalu mengembangkan diri kapanpun dan dimanapun.  

Jangan Lupa Alokasikan Pendapatan

Bermodalkan semangat untuk mengembangkan diri tidak akan cukup. Akan tetapi, semangat harus diiringi dengan alokasi pendapatan yang kita miliki untuk mengembangkan diri. Dengan adanya alokasi pendapatan, kita bisa memilah-milah jenis pengembangan diri, yang dampaknya sangat besar bagi kita.

Mulai dari jenis pengembangan diri dalam bentuk pendidikan formal, seperti jenjang S1, S2, dan S3; dan pendidikan non-formal seperti pelatihan, seminar, membaca buku, dan lain sebagainya.

Dari semua jenis pengembangan diri, ada yang berbayar dan ada yang gratisan. Walaupun, ada banyak jenis pengembangan diri yang bersifat gratisan. Apalagi, bila dikaitkan dengan kemajuan teknologi, dengan adanya media internet. Kita bisa mendapatkan materi apa saja dengan berselancar di internet untuk mengembangkan diri.

Tetap saja, kita harus mengikuti jenis-jenis pengembangan diri yang berbayar, agar kita tidak bermental gratisan. Karena mental gratisan sangatlah tidak baik untuk perkembangan karir kita di kemudian hari.

Selain itu, dengan berbayar akan membuat diri kita lebih fokus dan serius mengikuti jenis pengembangan diri tersebut. Karena, bila tidak serius, maka kita hanya akan kehilangan uang tanpa mendapatkan pengetahuan apapun dari kegiatan pengembangan diri yang diikuti.

Intinya, kita jangan hanya berfokus pada pengembangan diri yang bersifat gratisan. Akan tetapi, sesekali kita juga harus mengikuti jenis pengembangan diri yang berbayar. Sehingga dengan mengikuti pengembangan diri yang bersifat gratisan dan berbayar, akan terjadi peningkatan skill yang kita miliki secara signifikan.

Untuk itu, wajib bagi kita mengalokasikan pendapatan yang dimiliki setiap bulannya untuk pengembangan diri. Tentu saja, persentase alokasi pendapatan yang digunakan untuk pengembangan diri, harus disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari.

Misalnya, bila saat ini Anda belum berkeluarga, maka Anda bisa mengalokasikan 50% hingga 100% pendapatan setiap bulannya untuk pengembangan diri. Sementara, bila Anda sudah berkeluarga, tentu jumlah alokasi untuk pengembangan diri harus didiskusikan bersama pasangan kita.

Bila kasusnya demikian, secara umum kira-kira berapa idealnya kita harus mengalokasikan pendapatan untuk mengembangkan diri?

Bila kita sudah berkeluarga, 5% hingga 10% rasa-rasanya sudah cukup alokasi untuk pengembangan diri setiap bulannya. Dan sisanya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, dan investasi.

Anggap saja, pendapatan bulanan yang kita miliki Rp 5.000.000 (lima juta rupiah). Jika memang disepakati mengalokasikan 5% dari pendapatan, berarti kita harus menyisihkan Rp 250.000 (duaratus lima puluh ribu rupiah) per bulan. Berarati, dalam setahun kita baru bisa mengalokasikan uang sebesar Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah) untuk mengembangkan diri.

Lantas, bila jenis pengembangan diri yang kita putuskan adalah jenis pengembangan diri melalui pendidikan formal. Misalnya saat ini baru memiliki ijazah S1, dan akan melanjutkan ke jenjang S2.

Sementara, rata-rata biaya yang harus dikeluarkan untuk melanjutkan studi jenjang S2 berkisar Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah), berarti kita harus menabung selama 16,5 tahun (Rp 50.000.000 : Rp 3.000.000 = 16,5 tahun).

Bila caranya seperti itu, kita keburu tua dan keburu pensiun dari tempat kerja. Oleh karena itu, selain kita mengalokasikan dari pendapatan bulanan, kita juga bisa mendapatkan cara dari luar pendapatan bulanan.

Bagaimana caranya?

Caranya, akan saya jelaskan di sub bab di bawah ini. Silahkan lanjutkan membaca sembari seruput kopi/teh hangatnya…!

Sumber: microsoft.com

Mengembangkan Side Job

Side jobe atau pekerjaan sampingan merupakan pekerjaan yang dilakukan di luar pekerjaan utama. Contoh, pekerjaan utama saya adalah seorang dosen. Sementara, pekerjaan sampingan saya adalah seorang penulis dan blogger.

Dari pekerjaan utama, saya mendapatkan gapok (gaji pokok) setiap bulan (baik dalam kondisi mengajar ataupun liburan kampus), honor kelebihan mengajar (biasanya dihitung kelebihan per SKS per semester yang dibagikan setiap bulan), membimbing skripsi mahasiswa, membimbing praktikum lainnya, honor kepanitiaan (misalnya ketua panitia dan sekretaris panitia), dan lain sebagainya.

Sementara dari side job (pekerjaan sampingan) sebagai penulis dan blogger, saya mendapatkan pendapatan berupa honor menulis naskah buku (naskah buku biografi, authobiografi, dan sebagai ghostwriter), menuliskan pesanan artikel, dan lain sebagainya.

Kalau saya sendiri, strategi penggunaan dana yang didapatkan dari pekerjaan utama, sebaiknya digunakan semuanya untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, baik kebutuhan dapur, shoping, jalan-jalan, makan di luar, dan lain sebagainya.

Sementara, untuk pendapatan yang didapatkan dari side jobe, biasanya saya gunakan untuk pengembangan diri. Hal tersebut, telah saya lakukan semenjak saya duduk di tahun ketiga kala menyelesaikan studi S1, dan hingga bisa menyelesaikan S2.

Dan bahkan, untuk saat ini juga, biaya pengembangan diri saya ambilkan dari pendapatan yang didapatkan dari side job. Misalnya untuk membeli domain dan hosting blog, membeli buku pengembangan diri, ikut seminar dan pelatihan berbayar, dan lain sebagainya.

Nah, itu hanya salah satu contoh berdasarkan pengalaman saya pribadi mengembangkan side job. Kemudian, sebagian hasilnya saya gunakan untuk mengembangkan diri, menabung, dan berinvestasi.

Intinya, kita bisa mengembangkan side job yang memiliki nilai jual. Terkhusus, side job yang memiliki harga jual yang tinggi. Sehingga, sekali bekerja kita akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar.

Beberapa side job yang bisa kita kembangkan misalnya, menjadi blogger, youtuber, penulis, jualan online, dan lain sebagainya. Hal yang harus diketahui ialah, side job yang kita kembangkan sebisa mungkin tidak mengganggu profesi utama kita.    

Sumber: canva.com

4 Tips Jitu Mengembangkan Diri

Setelah kita menyadari bahwa mengembangkan diri wajib hukumnya bagi setiap manusia. Dan manusia yang tidak mau mengembangkan diri, siap-siap akan menjadi makhluk terasing di antara komunitasnya.

Maka dari itu, ada 4 tips jitu agar kita berhasil mengembangkan diri, antara lain:

#1. Pilih Pengembangan Diri Sesuai Passion

Passion adalah sesuatu yang membuat kita senang, dan kita tak pernah merasa bosan melakukan hal tersebut. Karena merasa senang dan tak pernah merasa bosan, seberat apapun kendala yang datang, kita akan tetap mengerjakan dan melakukan hal tersebut.

Nah, apa yang akan kita kembangkan harus disesuaikan dengan passion yang kita miliki. Mengapa? Agar, kita memiliki keteguhan hati untuk melakukan apa yang telah menjadi  pilihan hati kita, hingga kita sukses mengembangkan hal tersebut.

Misalnya, profesi Anda seorang dosen. Pilihan sebagai seorang dosen, memang didasarkan akan passion Anda yang berkaitan dengan kesenangan menulis, mengajar, berinteraksi dengan orang lain, dan lain sebagainya.

Bentuk pengembangan diri yang ditempuh misalnya, mengikuti workshop, pelatihan, melanjutkan studi S3, dan lain sebagainya. Tentu, bentuk pengembangan diri yang diambil, sesuaikan dengan kebutuhan.

Maka, jenis pengembangan diri yang diambil misalnya, meningkatkan kemampuan mengajar, meningkatkan kemampuan menulis di jurnal bereputasi, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, dan jenis pengembangan diri lainnya yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Lantas, bagaimana bila profesi yang kita geluti tak sesuai dengan passion yang kita miliki?

Jawabannya ada 2.

Pertama, kita memutuskan untuk tetap menekuni profesi tersebut hingga menjadi passion bagi kita. Artinya, profesi yang kita tekuni dipaksakan hingga menjadi passion bagi kehidupan kita. Karena kita telah memutuskan untuk menjadikan hal tersebut sebagai pilihan hidup kita.

Keputusan yang telah kita tempuh, tentu harus dibarengi dengan garansi yang jelas, bahwa kita akan sukses mengembangkan diri di bidang tersebut. Sehingga, keputusan yang kita ambil, memang menjadi keputusan yang benar-benar dipertimbangkan secara matang.  

Kedua, kita memutuskan diri untuk meninggalkan profesi tersebut. Bila pertimbangannya ialah, diri kita tidak akan mungkin bisa menyenangi profesi tersebut dan berhasil, maka sebaiknya kita meninggalkan profesi tersebut, dan mencari profesi yang sesuai dengan passion kita.

Tentu saja, keputusan meninggalkan profesi karena tak sesuai passion harus dipikirkan secara matang. Jangan sampai, kita meninggalkan profesi tersebut, malah mengantarkan diri kita menjadi seseorang yang tak memiliki profesi atau pengangguran.

#2. Cicil Dalam Bentuk Tindakan Nyata

Pengembangan diri yang baik bukan hanya direncanakan dalam bentuk tulisan, kemudian dilaksanakan sebagai bentuk rutinitas yang terjadwal. Akan tetapi, bagaimana caranya agar dituangkan dalam bentuk tindakan nyata. Sehingga dapat memberikan peningkatan terhadap skill yang kita miliki.

Misalnya, jenis pengembangan diri yang kita pilih melalui pendidikan formal. Anggap saja Anda seorang dosen dengan ijazah S2. Kemudian, Anda memutuskan untuk mengembangkan diri dengan melanjutkan ke jenjang S3.

Seperti yang kita ketahui, jenjang pendidikan S3 setidaknya dapat ditempuh dalam kurun waktu 3 tahun. Maka dari itu, Anda harus menyusun ke dalam bentuk tindakan nyata agar pengembangan diri dapat dicapai dalam kurun waktu 3 tahun. Atau, kalaupun mengalami keterlambatan, hanya 1 tahun saja.

Adanya bentuk tindakan nyata, akan membuat kita menjadi lebih fokus. Bahkan, bentuk tindakan nyata harus diperinci menjadi tindakan nyata setiap tahunnya, tindakan nyata setiap bulannya, tindakan nyata setiap minggunya, hingga tindakan nyata setiap harinya.

Dengan menyicil ke dalam bentuk tindakan nyata, diharapkan kita tidak berleha-leha selama melakukan pengembangan diri. Akan tetapi, memang benar-benar fokus terhadap tujuan yang akan kita capai, yaitu bisa lulus dalam jangka waktu 3 tahun.

Kemudian, mampu mendapatkan ilmu pengetahuan yang maksimal selama menjalani pendidikan S3 tersebut. Sehingga, kita bisa mendapatkan banyak hal, mulai dari ijazah S3, hingga kekayaan intelektual dari kegiatan belajar di jenjang S3.

#3. Tata Pola Hidup

Ketidak berhasilan seseorang dalam melakukan pengembangan diri adalah, ketidak teraturan pola hidup yang dimiliki oleh dirinya. Maka dari itu, bila kita telah memutuskan diri untuk mengambil satu jenis pengembangan diri, kita harus berkomitmen untuk hidup teratur.

Misalnya, saat ini Anda sebagai seorang dosen ingin mengembangkan bisnis online sebagai side job yang akan dikembangkan di luar jam mengajar di kampus. Maka dari itu, Anda mengikuti kursus yang bisnis online yang berbayar. Kursus ditempuh dalam jangka waktu setengah tahun.

Setelah memutuskan untuk mengambil kursus, maka Anda harus memiliki komitmen untuk menata hidup Anda dari kesibukan yang ada. Dengan mengambil kursus, bisa dipastikan Anda akan bertambah sibuk untuk mengerjakan tugas-tugas di tempat kursus.

Bila Anda tidak mampu menata hidup dari kesibukan yang ada, tentu saja Anda tidak akan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan di tempat kursus. Bila tidak mengerjakan tugas-tugas di tempat kursus, bisa dipastikan proses pengembangan diri untuk memahami bisnis online akan sia-sia.

Anda hanya akan kehilangan uang, sementara ilmu pengetahuan yang diinginkan tak didapatkan. Oleh karena itu, bila kita telah memilih satu jenis pengembangan diri, maka kita harus berkomitmen untuk menata hidup kita. Sehingga kita mampu mengembangkan diri secara maksimal.

#4. Lakukan Evaluasi

Melakukan evaluasi terhadap setiap jenis pengembangan diri itu penting. Agar Pengembangan diri yang kita lakukan, memiliki efek positif terhadap peningkatan kemampuan yang kita miliki.

Jangan sampai, kita banyak melakukan pengembangan diri. Hanya saja, kemampuan yang kita miliki, baik berupa soft skill ataupun hard skill tak bertambah. Oleh karena itu, dengan melakukan evaluasi akan membuat kita paham dampak yang diberikan dari setiap jenis pengembangan diri yang kita lakukan.

Tentu saja, evaluasi harus dilakukan secara mendalam. Sehingga kita bisa mengetahui apa yang menyebabkan sukses ataupun gagal dari pengembangan diri yang kita lakukan.

Penutup

Demikianlah tips jitu pengembangan diri. Semoga, masing-masing dari kita bisa mengembangkan diri dengan baik. Sehingga, kita menjadi manusia yang berkembang dengan keahlian yang dibutuhkan di jamannya.

Sekali lagi, saya ucapkan selamat mengembangkan diri…!

Baca Juga: Seorang Profesional Harus Memiliki Kesadaran Mengembangkan Diri, Agar Karir Tak Stuck

Tinggalkan komentar