8 Tips Memanfaatkan Waktu, Agar Hidup Makin Produktif

Setiap orang memiliki waktu yang sama selama sehari semalam, yaitu sebanyak 24 jam. Namun, waktu yang sama tak lantas membuat setiap orang memiliki tingkat produktivitas sama, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Misalnya, mengapa ada orang yang sukses dan yang tak sukses, ada orang yang kaya dan ada yang miskin, ada yang pandai dan ada yang bodoh, dan mungkin masih banyak contoh lainnya.

Bila dijawab secara normatif, itulah keindahan hidup yang diciptakan oleh Allah SWT. Sehingga akan membuat hidup kita lebih indah dengan adanya keragaman. Dan bila semuanya seragam, malah akan membuat hidup tak nampak indah di mata kita.   

Hanya saja, bila dikaitkan dengan manajemen kinerja, mungkin orang-orang yang sukses, telah berhasil mengelola waktu yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik mungkin. Sehingga setiap detik waktu yang diberikan oleh-Nya, berhasil dikonversikan menjadi kinerja-kinerja yang terbaik.

Pemanfaatan waktu dengan baik, tentu saja menjadi kata kunci bagi orang-orang yang sukses. Karena kesuksesan bukanlah anugrah yang turun dari langit secara langsung. Akan tetapi, melalui proses panjang yang penuh dengan lika-liku perjuangan.

Saking pentingnya pengelolaan waktu, Allah SWT menyebutkan di dalam Al-Qur’an dalam bentuk sumpah di dalam Surat Al-‘Asyr ayat 1, yaitu: “Demi Masa”.

Selain itu, saking pentingnya pemanfaatan waktu agar manusia tetap produktif, Allah SWT juga menjelaskan di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Insyirah ayat 7, yaitu: “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Dari dua contoh teks keagamaan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa keberadaan waktu sangat erat kaitannya dengan tingkat produktivitas. Dimana, orang yang produktif, bisa dipastikan dirinya mampu memanfaatkan waktu dengan baik. 

Untuk itu, agar waktu yang kita miliki tetap produktif, setidaknya ada 8 tips yang dapat kita lakukan dalam dunia kerja. 8 Tips tersebut, Insya-Allah akan membuat kita lebih produktif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Membuat Jadwal Kerja Harian

Tips Pertama, ialah membuat jadwal kerja harian. Jadwal kerja harian sangat penting dimiliki oleh setiap orang, baik sebagai pebisnis ataupun seorang profesional. Dengan memiliki jadwal kerja harian, maka setiap hari tak akan sedetik pun waktu yang terbuang sia-sia.

Waktu yang kita miliki setiap harinya akan termanfaatkan dengan baik. Karena kita telah merencanakan dalam bentuk jadwal yang lengkap dan tersusun dengan baik. Sehingga setiap kegiatan yang dilakukan, telah sesuai perencanaan kerja yang telah terjadwal.

Pembuatan jadwal kerja harian, bisa dimulai semenjak bangun tidur di pagi hari hingga menjelang tidur di malam hari. Kemudian, kita mengisi kegiatan apa yang akan dikerjakan di hari tersebut.

Pembuatan jadwal harian, bisa kita susun selama satu minggu atau bahkan satu bulan. Diharapkan, adanya jadwal yang telah kita susun, membuat diri kita bekerja lebih terarah dan sesuai apa yang telah kita inginkan selama satu hari tersebut.

Membuat Skala Prioritas Kerja

Tips Kedua, ialah membuat skala prioritas kerja. Skala prioritas kerja penting untuk kita buat setiap harinya. Sehingga kita bisa mengerjakan setiap pekerjaan lebih fokus pada pekerjaan yang menjadi skala prioritas kita.

Bila kita tidak memiliki skala prioritas kerja, kita akan mengerjakan seluruh pekerjaan yang ada dalam waktu bersamaan. Tentu saja, karena dikerjakan dalam waktu bersamaan, tak memberikan hasil memuaskan.   

Nah, kebanyakan dari kita, tidak memperhatikan seberapa besar kemampuan yang kita miliki. Terkadang, kita menyetujui untuk mengerjakan seluruh pekerjaan sekaligus di hari tersebut, tanpa mempertimbangkan kemampuan dan beban kerja.

Maka dari itu, sebaiknya kita membuat skala prioritas dari pekerjaan yang akan kita kerjakan. Sehingga dengan adanya skala prioritas, kita akan mengerjakan pekerjaan yang benar-benar sangat penting untuk dikerjakan.

Caranya sangat gampang, buatlah daftar pekerjaan yang akan dikerjakan selama satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun. Kemudian, pilih dua, tiga, atau lebih pekerjaan yang memang penting untuk cepat diselesaikan. Tentu saja, disesuaikan dengan waktu perkiraan pengerjaan tugas tersesbut. 

Contoh, sebagai dosen dan penulis, banyak tugas yang harus saya kerjakan, baik tugas dari kampus ataupun berkaitan dengan naskah buku milik klien. Tentu saja, saya tidak akan bisa menyelesaikan tugas tersebut sekaligus.

Biasanya, saya akan membuat daftar pekerjaan yang harus saya kerjakan selama satu semester. Beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan selama satu semester, misalnya antara lain:

  1. Menyelesaikan satu naskah buku biografi.
  2. Menyelesaikan satu naskah autobiografi.
  3. Menulis 4 artikel untuk blog setiap bulan, dan untuk satu semester (6 bulan) sebanyak 24 artikel.  
  4. Menyelesaikan naskah buku pengembangan diri untuk dipasarkan di blog.
  5. Membuat RPS (Rencana Pembelajaran Semester) untuk panduan mengajar di kampus.
  6. Menyelesaikan proposal penelitian internal kampus dan proposal PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) untuk internal kampus.
  7. Mengajar di kampus sesuai jadwal yang telah diberikan oleh kampus.
  8. Berkunjung ke perpustakaan nasional di Jakarta Pusat.
  9. Berkunjung ke toko buku.
  10. Pulang kampung.
  11. Menulis Opini ke media massa minimal 4 artikel setiap bulan.
  12. Kursus bahasa inggris di Pare Jawa Timur.
  13. Kursus Digital Marketing.
  14. Mengambil sertifikasi.

Bila melihat banyaknya tugas yang harus saya kerjakan, tentu saja saya tidak akan mungkin bisa mengerjakan sekaligus selama satu semester. Oleh karena itu, saya harus membuat skala prioritas dari daftar pekerjaan yang harus saya kerjakan selama satu semester.

Kemudian, pekerjaan yang akan dikerjakan harus berkaitan langsung dengan profesi saya sebagai seorang dosen dan penulis. Sementara, kegiatan yang tidak berkaitan secara langsung, mungkin bisa dikerjakan semester selanjutnya.  

Misalnya, dari seluruh kegiatan yang saya rencanakan, saya hanya mengambil 7 kegiatan, antara lain:    

  1. Menyelesaikan satu naskah buku biografi.
  2. Menyelesaikan satu naskah autobiografi.
  3. Menulis 4 artikel untuk blog setiap bulan, dan untuk satu semester (6 bulan) sebanyak 24 artikel. 
  4. Menyelesaikan naskah buku pengembangan diri untuk dipasarkan di blog.
  5. Membuat RPS (Rencana Pembelajaran Semester) untuk panduan mengajar di kampus.
  6. Mengajar di kampus sesuai jadwal yang telah diberikan oleh kampus.
  7. Menyelesaikan proposal PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) untuk internal kampus dan proposal PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) untuk internal kampus.
  8. Berkunjung ke perpustakaan nasional di Jakarta Pusat.
  9. Berkunjung ke toko buku.
  10. Pulang kampung.
  11. Menulis Opini ke media massa minimal 4 artikel setiap bulan.
  12. Kursus bahasa inggris di Pare Jawa Timur.
  13. Kursus Digital Marketing.
  14. Mengambil sertifikasi.

Nah, itulah contoh bagaimana cara kita membuat skala prioritas pekerjaan selama satu semester. Adapun pembuatan skala prioritas masing-masing orang, tergantung pada kebutuhan kita masing-masing. Bisa berbentuk tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, hingga harian.

Tentu saja, agar lebih terarah dan lebih fokus, bila Anda membuat skala prioritas dalam bentuk tahunan atau semesteran, turunkanlah ke dalam bentuk bulanan, mingguan, dan harian.

Salah satu tujuannya ialah, agar apa yang kita prioritaskan bisa kita cicil setiap harinya. Kemudian, kita mampu memanfaatkan setiap detik waktu yang dimiliki untuk lebih produktif.

Sumber: https://rembes.net/

Menepati Skala Prioritas Kerja

Tips Ketiga, ialah menepati skala prioritas kerja. Perlu kita ketahui bersama bahwa apa yang telah kita prioritaskan, tentunya harus kita kerjakan. Sehingga kita bisa menepati apa yang telah menjadi prioritas kerja kita selama kurun waktu yang telah ditentukan.

Jangan sampai, kita telah membuat skala prioritas kerja, entah dalam bentuk tahunan, bulanan, mingguan, hingga harian. Tetapi, kita tidak berusaha untuk mengerjakannya. Tanpa ada ikhtiar (usaha) yang keras, tentu skala prioritas tidak akan terealisasi.

Oleh karena itu, setelah kita membuat skala prioritas, langkah selanjutnya ialah merealisasikan ke dalam bentuk kerja nyata. Dengan mengerjakannya, kita telah menyicil apa yang menjadi skala prioritas kita dalam waktu yang telah ditentukan.

Misalnya, di hari Senin saya menyusun tiga skala prioritas yang akan dikerjakan, antara lain:

  1. Menulis artikel untuk blog sebanyak 2.000 hingga 3.000 kata.
  2. Membuat soal 4 mata kuliah yang akan diujikan pada Ujian Akhir Semester (UAS) di kampus.
  3. Melanjutkan menulis 5 lembar naskah biografi milik klien.

Saya harus segera mengerjakan apa yang telah saya prioritaskan di hari Senin, dengan cara menyicilnya. Bisa dimulai seusai Sholat Subuh, atau dimulai semenjak Jam 8 pagi seperti orang-orang kerja kantoran pada umumnya.

Misalnya, bila dimulai semenjak jam 8 pagi, maka saya harus fokus menulis artikel untuk blog sebanyak 2.000 kata hingga 3.000 kata atau sekitar 10 halaman, semenjak masuk jam 8 pagi. Bila terasa lelah, beristirahat sejenak dengan cara ngemil, minum kopi, ataupun yang lainnya.

Target pengerjaan, sebelum jam 12 siang sudah selesai ditulis dan diedit. Berarti, setiap jam setidaknya saya harus bisa menyelesaikan 2 hingga 3 lembar tulisan. Agar lebih efektif mengontrol, lihatlah jumlah halaman yang dihasilkan setiap jamnya. Sehingga, sebelum jam 12 siang pekerjaan menulis artikel untuk blog bisa diselesaikan.

Kemudian, sehabis Sholat Dzuhur, istirahat sejenak, dan makan siang. Sekitar jam 1 siang, lanjutkan membuat soal untuk kegiatan UAS di kampus. Targetkan, jam 3 sore harus sudah selesai. Berarti, saya memiliki waktu 2 jam untuk menyelesaikan 4 soal mata kuliah, yang berisikan 8 butir soal.

Setelah selesai membuat soal, istirahat sejenak dan kemudian Sholat Asar. Tepat Jam 4 sore, lanjutkan untuk menulis 5 lembar naskah biografi milik klien. Bila tidak ada halangan dan kendala, hingga jam 5 sore bisa menghasilkan 2 hingga 3 lembar naskah tulisan.

Sementara, sisa penulisan untuk mencapai 5 lembar, bisa dilanjutkan setelah Sholat Isya sehabis bercengkrama dengan keluarga. Tentu saja, harus ada komitmen untuk menyelesaikan hingga mencapai 5 lembar. Sehingga, saya tidak boleh tidur sebelum menyelesaikan 5 lembar tulisan.

Nah, itu hanya salah satu contoh bagaimana cara kita menepati, atau merealisasikan apa yang kita jadikan prioritas kerja. Dan masih banyak contoh, tentu dengan profesi yang berbeda-beda.     

Evaluasi Beban Kerja

Tips Keempat, ialah melalukan evaluasi terhadap beban kerja yang telah dijadikan sebagai prioritas kerja. Evaluasi beban kerja menjadi sangat penting bagi kita, agar kita bisa mengetahui apakah beban kerja terlalu berat atau mungkin perlu ditambah.

Bila beban kerja terlalu berat, berarti skala prioritas yang kita buat harus diturunkan jumlahnya. Pun begitu sebaliknya, bila beban kerja bisa dicapai dan masih banyak waktu terbuang sia-sia, berarti skala prioritas harus ditambah.

Misalnya, dari contoh skala prioritas harian yang telah saya susun, antara lain:

  1.  Menulis artikel untuk blog sebanyak 2.000 hingga 3.000 kata.
  2. Membuat soal 4 mata kuliah yang akan diujikan pada Ujian Akhir Semester (UAS) di kampus.
  3. Melanjutkan menulis 5 lembar naskah biografi milik klien.

Dari ketiga kegiatan tersebut, ternyata untuk kegiatan nomor 3 tidak bisa diselesaikan. Dimana, saya hanya mampu menulis 3 lembar saja. Sementara, target kerja yang telah disusun ialah 5 lembar.

Bila diketahui seperti itu, berarati beban kerja yang dibebankan kepada saya di hari sebelumnya terlalu banyak. Oleh karena itu, skala prioritas kerja untuk keesokan harinya harus dikurangi satu kegiatan. Sehingga hanya ada 2 kegiatan dalam sehari.

Dan kebetulan, kegiatan pembuatan soal untuk UAS di kampus sudah selesai dikerjakan. Berarti, beban kerja yang harus dikerjakan keesokan harinya telah sesuai harapan, yaitu 2 jenis pekerjaan. Dengan demikian, beban kerjanya tak perlu ditambah lagi.

Maka, yang dikerjakan untuk esok harinya, yaitu:   

  1. Menulis artikel untuk blog sebanyak 2.000 hingga 3.000 kata.
  2. Membuat soal 4 mata kuliah yang akan diujikan pada Ujian Akhir Semester (UAS) di kampus.
  3. Melanjutkan menulis 5 lembar naskah biografi milik klien.

Begitulah contoh evaluasi beban kerja yang kita miliki. Adanya evaluasi beban kerja, bertujuan untuk mengukur seberapa efektif kerja yang kita miliki. Sehingga apa yang menjadi skala prioritas, dapat kita realisasikan.  

Sumber: https://www.dekoruma.com/

Desain Tempat Kerja Senyaman Mungkin

Tips Kelima, ialah mendesain tempat kerja yang kita miliki senyaman mungkin. Bila kita bekerja dalam kondisi nyaman, kita akan bersemangat untuk bekerja. Karena semangat, maka kita akan bekerja dengan produktif dari setiap waktu yang diberikan oleh Tuhan.

Tentu saja, bentuk desain tempat kerja, disesuaikan dengan selera yang kita inginkan. Misalnya, bila kita menyukai permainan sepak bola, desain tempat kerja dengan menghadirkan pernak-pernik sepak bola; bila kita menyukai sastra, desain tempat kerja kita dengan menempelkan kata-kata indah sastrawan; dan lain sebagainya.

Untuk mendesain, tentu saja harus disesuaikan dengan tempat kita bekerja. Bila profesi kita sebagai seorang pebisnis, maka kita bisa mendesain tempat kerja kita semau diri kita. Karena tempat kerja kita adalah milik kita pribadi.

Sementara, bila profesi kita merupakan seorang karyawan, tentu desain tempat kita kerja atau ruangan kerja kita, harus disesuaikan dengan kebijakan perusahaan. Sehingga kita tidak bisa memaksakan keinginan kita seutuhnya.

Walaupun demikian, kita bisa mendesain area yang menjadi hak privasi kita, misalnya ialah meja tempat kita bekerja. Nah, kita bisa mendesain meja tempat kerja kita dengan berbagai macam hal, misalnya kata-kata motivasi, gambar-gambar mungil, mainan kesukaan kita, patung-patung kecil, ataupun yang lainnya.

Intinya, dengan mendesain tempat kerja ataupun ruangan kerja kita, salah satu tujuannya ialah untuk menumbuhkan kenyamanan dalam diri kita. Karena nyaman, maka kita akan lebih produktif bekerja. Sehingga setiap detik waktu yang dianugrahkan oleh Allah SWT mampu kita gunakan sebaik mungkin.    

Hilangkan Gangguan Pemecah Konsentrasi

Tips Keenam, hilangkan gangguan pemecah konsentrasi kerja. Banyak waktu kita terbuang sia-sia, disebabkan kita terganggu oleh pemecah konsentrasi, baik waktu bekerja, waktu bersama teman, waktu bersama keluarga, ataupun yang lainnya.

Coba sesekali perhatikan dalam keluarga kita, misalnya istri kita, suami kita, ataupun anak-anak kita. Mereka berkomunikasi dengan kita, tetapi tangannya masih tetap memainkan HP.

Secara sepintas, memang tak berdampak apa-apa. Tetapi, bila hal tersebut dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan keluarga. Tentu saja, akan menghilangkan kehangatan kehidupan keluarga.

Juga, coba sesekali perhatikan kolega kita di tempat kerja. Baru saja mengetik tugas di layar komputer satu dua kalimat, tangannya sudah berpindah ke layar HP dan menggeserkan ke akun medsos yang ada di layar HP-nya. Tak lupa melebarkan, senyum sedikit di sela-sela bibir indahnya.  

Dampaknya ialah, pekerjaan yang harusnya bisa diselesaikan sesuai kurun waktu yang telah diberikan, tak dapat diselesaikan olehnya. Tentu saja penyebabnya ialah, pecahnya konsentrasi yang dimiliki karena sedikit-sedikit melirik HP dan berpindah dari satu akun medsos yang dimiliki ke akun medsos lainnya.

Atau mungkin, cobalah sesekali perhatikan diri kita sendiri kala bekerja. Rasa-rasanya, dunia akan terasa hancur bila merasakan adanya getaran di HP yang kita miliki. HP bergetar, karena ada pesan yang masuk ke medsos yang kita miliki, entah dari pesan WatsAp, Istagram, Twitter, Facebook, dan lain sebagainya. Sementara kita, tak segera membukanya

Nah, contoh tersebut merupakan gangguan pemecah konsentrasi yang terjadi pada siapa saja. Tentu saja, pemecah konsentrasi bukan hanya HP. Akan tetapi, bisa berbentuk yang lain, misalnya: jaringan internet di leptop atau komputer tempat kita bekerja, teman yang nyerocoos ngajak ngobrol, suara bising televisi dan radio, dan lain sebagainya.

Coba deteksi dengan baik, kira-kira apa saja yang menjadi gangguan pemecah konsentrasi saat kita bekerja. Setelah diketahui, jauhkanlah gangguan tersebut dari arena tempat kita bekerja. Sehingga kita bisa fokus bekerja untuk menyelesaikan tugas-tugas yang telah kita prioritaskan di hari tersebut.

Misalnya, setelah dilakukan deteksi, pengganggu utama yang mampu memecah konsentrasi kita saat bekerja ialah HP, suara bising televisi dan radio. Maka, jauhkanlah ketiga alat pengganggu tersebut dari area tempat kita bekerja.

Kemudian, buatlah komitmen dengan diri kita masing-masing, bahwa kita baru boleh melihat HP, televisi, dan mendengarkan radio hanya di waktu-waktu istirahat, yaitu jam 12 hingga jam 1 siang.        

Sumber: https://www.rimma.co/

Mendekatkan Penunjang Kerja di Tempat Kerja

Tips Ketujuh, mendekatkan penunjang kerja di tempat kita bekerja. Penting bagi kita untuk mendekatkan alat-alat penunjang kerja di tempat kita bekerja. Selain untuk efektivitas kerja, juga untuk menjaga tingkat konsentrasi kita saat bekerja.

Konsentrasi yang kita miliki akan tetap terjaga dengan baik, karena suluruh alat-alat penunjang kerja telah berada di dekat kita. Dalam keadaan konsentrasi itulah, kita bisa menggunakan setiap detik waktu yang dimiliki untuk tetap produktif bekerja.

Misalnya, sebagai penulis, saat saya hendak menulis, saya akan mendekatkan semua alat-alat yang saya butuhkan. Misalnya, buku-buku yang akan dijadikan refrensi, hasil wawancara, dokumen-dokumen yang dibutuhkan, hingga kopi dan makanan ringat buat ngemil.

Bila butuh buku refrensi, maka saya tinggal mengambil buku yang dibutuhkan; bila butuh data-data dokumen, maka saya tinggal buka dokumen yang ada di dekat saya; hingga saat saya lelah menulis, maka saya tinggal ambil makanan ringan sembari menyeruput kopi yang sudah siap untuk diminum.

Tentu saja, alat-alat penunjang kerja antara satu orang dengan orang lain berbeda. Maka dari itu, inventarisir saja alat-alat penunjang kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Setelah itu, kumpulkan dan letakkan di dekat kita bekerja.  

Membuat Komitmen Dengan Diri Sendiri

Tips Kedelapan, ialah membuat komitmen dengan diri kita sendiri. Komitmen merupakan bentuk kesungguhan untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah kita susun dalam bentuk skala prioritas kerja. Tanpa adanya komitmen, tentu saja skala prioritas yang telah kita susun tidak akan berjalan dengan lancar.

Akan ada pekerjaan yang tidak terselesaikan setiap harinya. Sehingga, makin hari tugas-tugas makin menumpuk, dan pada akhirnya kita hanya akan menyesali diri kita sendiri, saat menyaksikan teman-teman seangkatan sukses dengan harta yang melimpah, jabatan yang bagus, kehidupan keluarga yang harmonis, kepribadian yang religius.

Maka dari itu, sebelum kita benar-benar menyesal, kita harus memiliki komitmen untuk bisa menyelesaikan prioritas kerja yang telah kita susun. Agar kita memiliki komitmen yang kuat, kita harus mampu memvisualisasikan masa depan yang akan kita hadapi kelak.

Misalnya, bila diri kita bersungguh-sungguh mengerjakan skala prioritas yang telah kita susun, kita akan menjadi orang sukses. Visualisasikan saja bagaimana kehidupan orang sukses. Missal ciri-cirinya, kehidupan rumah tangga berkah, memiliki mobil bagus, rumah bagus, anak yang cerdas, dan lain sebagainya.

Pun sebaliknya, bila diri kita tidak sungguh-sungguh mengerjakan skala prioritas, maka kita akan menjadi seorang yang tidak sukses. Karena tak sukses, kehidupan akan serba melarat, kondisi keluarga berantakan, anak-anak durhaka, dan lain sebagainya.

Visualisasi seperti itu, akan mampu membuat kita makin berkomitmen untuk menyelesaikan tugas-tugas yang telah kita susun ke dalam bentuk skala prioritas kerja. Karena, ada perasaan semangat yang timbul dari dalam diri kita. Sehingga, kita akan menjadi manusia yang selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Penutup

Demikianlah 8 tips yang dapat kita lakukan, sehingga setiap detik waktu yang kita miliki, mampu kita manfaatkan dengan baik. Dan pada akhirnya, kita akan memiliki kehidupan yang makin produktif setiap harinya. 

Tinggalkan komentar