Investasi Deposito Juga Penting, Ini Tips Untuk Miliki Deposito

Sumber: detik.com (gambar dimodifikasi)

Setelah memiliki tabungan yang di-top up (ditambah) setiap bulannya secara rutin, kita juga harus memiliki deposito. Karena memiliki tabungan saja tidak cukup, akan tetapi harus ditambah dengan deposito.

Apa itu deposito?

Deposito adalah sarana menyimpan uang di bank dalam jangka waktu tertentu, yang penarikannya juga dapat dilakukan dalam waktu tertentu, berdasarkan perjanjian yang dibuat antara bank dan nasabah penyimpan.

Nah, dengan adanya jangka waktu tertentu, maka pemilik deposito tidak bisa mencairkan deposito yang dimiliki sebelum jangka waktunya (jatuh tempo).

Sumber: folderbisnis.com (gambar dimodifikasi)

Jenis-Jenis Deposito Yang Harus Diketahui

Secara garis besar, deposito dibagi menjadi tiga, yaitu deposito berjangka, sertifikat deposito, dan deposito on call.

Lantas, apa yang membedakan ketiganya?

Penasaran, kan…! Yuk ikuti ulasannya…!

#1. Deposito Berjangka

Deposito berjangka merupakan bentuk simpanan berjangka di bank yang dilakukan oleh masyarakat. Penarikan deposito berjangka disesuaikan dengan jangka waktu tertentu, sesuai kesepakatan (akad) yang dibuat antara pemilik deposito dengan pihak bank.

Pemilik deposito berjangka akan diberikan bukti kepemilikan berupa bilyet deposito. Nah, bukti tersebut harus disimpan, ketika akan dicairkan, pemilik deposito harus membawa kembali bilyet deposito sebagai bukti kepemilikan di bank tersebut.  

Adapun jangka waktu dalam deposito berjangka, antara lain: 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan. Untuk pemilihan jangka waktu, tentu sesuaikan saja dengan kebutuhan dari keuangan yang akan diinvestasikan.

#2. Sertifikat Deposito

Sertifikat deposito merupakan bentuk simpanan berjangka di bank yang dilakukan oleh masyarakat. Penarikannya sesuai kesepakatan (akad) yang dibuat antara pemilik deposito dengan pihak bank.

Dalam sertifikat deposito, pemilik dapat memperjual-belikan bukti kepemilikan sertifikat deposito tersebut. Gampangnya, sertifikat deposito merupakan bentuk pengembangan dari deposito berjangka, yang dapat diperjual-belikan.

Biasanya, penarikan pada saat jatuh tempo dilakukan atas unjuk. Sehingga siapapun yang memiliki akibat adanya jual-beli dari sertifikat deposito tersebut, dapat mencairkannya. Sebagai bukti memiliki atas sertifikat deposito tersebut.

Satu hal yang menjadi ciri khusus dari sertifikat deposito ialah, bank akan membayarkan bunga sertifikat deposito di awal pembukaan. Jadi, pas kita membuka sertifikat deposito, kita langsung mendapatkan keuntungan berupa bunga dari sertifikat deposito tersebut.     

#3. Deposito On Call

Deposito On Call atau yang lebih dikenal dengan DOC merupakan produk simpanan yang ada di bank dengan jangka waktu yang singkat, yaitu sekitar 3 hari hingga 30 hari kalender.

Artinya, waktu terpendek untuk mengendapkan uang dalam bentuk deposito on call ialah 3 hari, dan terpanjang 30 hari. Biasanya, imbal hasil yang diberikan cukup besar untuk deposito on call.

Hal lain yang harus diketahui dalam deposito on call ialah, bank biasanya menargetkan jumlah yang yang cukup besar untuk pembukaan deposito on call. Karena, bank juga akan memberikan imbal hasil yang cukup besar, dengan mengacu pada penempatan harian di bank Indonesia. 

Sumber: bankdassa.com (gambar dimodifikasi)

Memahami ARO dan Non-ARO

Nah, sebelum kita membuka deposito, ada hal lain yang harus kita ketahui, yaitu adanya fasilitas ARO (automatic roll over) dan Non-ARO (non-automatic roll over) dari produk deposito yang akan kita ambil. Sehingga deposito yang kita miliki, mampu memberikan imbal hasil yang lebih besar.  

Deposito fasilitas ARO merupakan deposito yang akan memperpanjang secara otomatis, bila jatuh tempo deposito tidak segera dicairkan. Artinya, pemilik deposito akan tetap mendapatkan keuntungan bunga (bila di bank konvensional) ataupun bagi hasil (bila di bank syariah) dari deposito yang ada.

Sementara, deposito fasilitas Non-ARO merupakan deposito yang tidak bisa memperpanjang sendiri. Artinya, bila deposito tersebut telah jatuh tempo, secara otomatis dananya akan diendapkan (tidak digunakan).

Sumber: infoperbankan.com

Bila Kamu Anti Bunga Bank, Tenang Saja, Ada Deposito Syariah Kok

Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia, No. 3, Tentang Deposito, deposito yang tidak dibenarkan secara syari’ah, yaitu deposito yang berdasarkan perhitungan bunga. Sedangkan deposito yang dibenarkan, yaitu deposito yang berdasarkan prinsip Mudharabah.

Sementara, menurut Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, deposito adalah investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan akad antara nasabah penyimpan dan bank syariah dan/atau UUS.

Dari penjelasan di atas, harusnya cukup menjadi informasi kepada kita, bagi yang tidak menginginkan bunga bank karena riba, yaitu deposito syariah sebagai alternatif. Nah, deposito syariah sendiri, untuk deposito berjangka ada di hampir seluruh Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). 

Sementara untuk sertifikat deposito yang syariah lebih dikenal dengan istilah Sertifikat Deposito Syariah (SDS), yaitu: simpanan dalam bentuk deposito berdasarkan prinsip syariah. Sertifikat Deposito Syariah menggunakan akad mudharabah. Pun begitu juga untuk Deposito On Call, yang berbasis syariah juga ada. Akad yang digunakan juga mudharabah.

Tentu, adanya deposito berbasis syariah, menjadi alternatif bagi masyarakat muslim yang ingin berinvestasi terbebas dari ribawi. Maka dari itu, tak ada alasan untuk tidak berinvestasi. Berinvestasilah di deposito, entah yang biasa ataupun berbasis syariah.   

Sumber: cermati.com

4 Alasan Berinvestasi di Deposito

Ada 4 alasan besar, mengapa kita harus berinvestasi dalam bentuk deposito yang disediakan oleh bank, baik bank konvensional ataupun bank syariah.

#Investasi yang Relatif Aman

Deposito merupakan jenis investasi yang relatif aman. Karena deposito termasuk jenis investasi yang memiliki risiko sangat kecil.

Artinya, pokok uang yang kita depositokan bisa dipastikan akan kembali utuh. Misalnya, kita mendepositokan uang sejumlah Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah). Ketika jatuh tempo, jumlah tersebut akan kembali utuh ke tangan kita.

#Pemberian Imbal Hasil Secara Rutin

Pemberia imbal hasil (bunga ataupun bagi hasil) dalam deposito, baik di bank konvensional ataupun syariah akan dibagikan secara rutin setiap bulannya. Sehingga pemilik deposito bisa mendapatkan keuntungan setiap bulan dari sejumlah uang yang didepositokan.

#Bisa Jadi Kolateral

Bila suatu hari kita ingin mengajukan pembiayaan ke bank, deposito yang kita miliki bisa dijadikan kolateral (jaminan) ke bank yang bersangkutan. 

#Dijamin LPS

Deposito yang kita miliki di bank dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dimana, LPS akan menjamin seluruh simpanan yang berbentuk tabungan, deposito, dan giro, atau bentuk lain yang dipersamakan dengan hal tersebut sebanyak Rp 2 Miliar.

Misalnya suatu saat bank gagal bayar entah disebabkan pailit atau bangkrut, maka LPS akan menjamin deposito yang kita miliki. Asalkan, deposito yang kita miliki tak lebih dari Rp 2 Miliar.

Sumber: liputan6.com

Bila Sudah Ada Uang, Segera Investasi di Deposito

Nah, setelah kita mengetahui secara lengkap berkaitan dengan deposito, tinggal atur waktu untuk membuka deposito di bank yang kita inginkan. Tentu saja, setelah uang untuk didepositokan telah tersedia.

Bila belum tersedia, mari coba kita berusaha untuk mencari dananya, entah dengan cara menyisihkan dari gaji ataupun dengan mencari passive income (pendapatan tambahan).

Investasi dalam bentuk deposito juga penting untuk kita miliki, walaupun kita telah memiliki investasi dalam bentuk tabungan, reksa dana, saham, ataupun yang lainnya. Salah satu tujuannya, agar kita bisa membagi-bagikan risiko ke berbagai investasi yang ada.

Selamat mencoba dan semoga dengan membuka deposito, pundi-pundi harta yang kita miliki terus bertambah setiap bulannya…! 

Baca Juga: Pilihan Investasi Bagi Milenial, Agar Tak Menyesal di Hari Tua

   

Tinggalkan komentar