Menjadi Ahli: Sebuah Ikhtiar Bagi Dosen

Memilih profesi dosen harus melalui keputusan yang benar-benar mengedepankan ikhtiar—bahkan kalau bisa sudah dilakukan dengan meminta petunjuk dari-Nya melalui sholat hajat. Sehingga setelah dirinya menjadi dosen, tidak menggerutu dan ngamuk-ngamuk karena tak sesuai dengan harapan yang diinginkan.

Misalnya, setelah menjadi dosen berharap mendapatkan gaji besar seperti orang-orang yang bekerja di perusahaan multinasional, tentu saja sangat mustahil—apalagi bila mendapatkan tempat mengajar di perguruan tinggi swasta yang yayasannya masih kembang-kempis. Paling-paling, Anda akan ditransfer satu semester satu kali, disebabkan saking kecilnya bayaran yang diberikan oleh kampus tempat mengajar. Maaf, banyak lho yang mengalami hal seperti ini.

Tetapi, bila niat kita menjadi dosen semata-mata untuk mengabdikan diri demi mencerdaskan kehidupan bangsa, berapapun honor yang diberikan oleh perguruan tinggi tempat kita mengajar, akan diterima dengan lapang dada. Karena, tujuan seorang dosen mengajar bukan semata-mata karena mencari materi berupa uang. Nilai adiluhung sebagai pengabdian itulah yang harus terus dikedepankan.

Lha, kalau begitu mau makan apa bila perguruan tinggi tempat kita mengajar hanya memberikan honorarium sesuka hati mereka?

Baik, akan saya ceritakan alur logikanya, sehingga tulisan ini bisa lebih bermanfaat untuk kita yang saat ini telah memilih atau bahkan terjerumus menjadi seorang dosen—yang gajinya mohon maaf, kadang hanya numpang lewat saja ke rekening kita, hehehe. Atau, bukan hanya numpang lewat, bahkan kadang bersaldo negatif, maksudnya masih harus nguntang di sana-sini agar dapur tetap bisa ngebul, hehehe.

Logikanya sangat sederhana. Bila niat kita mengajar bukan hanya semata-mata mengejar uang, tetapi lebih mengedepankan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka kita akan melaksanakan fungsi pengajaran sebaik mungkin. Secara tidak langsung, kita akan mempersiapkan materi sematang mungkin, sebelum kita mengajar, dan persiapan lainnya.   

Tentu saja, persiapan yang matang sebelum mengajar—mungkin salah satu di dalam persiapan tersebut ialah membaca dan menela’ah buku, jurnal ilmiah, hasil penelitian, dan lain sebagainya. Sehingga secara tidak langsung kita sebagai seorang dosen telah melakukan pengembangan diri tanpa disadari.

Bayangkan saja, bila kegiatan membaca dilakukan secara konsisten oleh seorang dosen setiap hari, bisa dipastikan dirinya akan menjadi orang yang ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuninya. Seorang ahli akan banyak dicari oleh orang-orang di luar perguruan tinggi. Sehingga, waktu luang di luar jam mengajar, bisa digunakan oleh seorang dosen untuk memanfaatkan ilmunya di luar perguruan tinggi—entah sebagai konsultan, tim ahli, ataupun yang lainnya.

Sumber: pixabay.com

Ikhtiar Menjadi Ahli Bagi Dosen

Menjadi ahli, tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama dan bukan abra kadabra. Dipastikan, dirinya harus mengorbankan banyak hal—mulai dari tenaga, waktu, bahkan hingga finansial. Karena, pengorbanan akan berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan seseorang menjadi ahlinya ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuninya.

Tanpa adanya pengorbanan yang lebih, tidak akan mungkin dirinya bisa menjadi ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuninya. Pun begitu juga seorang dosen, bila dirinya ingin menjadi seorang dosen yang ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuninya, maka seorang dosen harus mau berkorban—di tengah-tengah keterbatasan kompensasi yang diterima dari profesinya sebagai seorang dosen.

Tetapi, keterbatasan bukan menjadi alasan terbesar bagi seorang dosen yang ingin menjadi ahli di bidangnya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghantarkan dirinya menjadi seorang yang ahli di bidangnya—khususnya cara-cara yang bersifat gratis, sehingga dirinya bisa menjadi ahli bi bidangnya.

Di bawah ini, merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan seorang dosen secara sederhana, gratis, efektif, dan efisien—sebagai sebuah ikhtiar untuk mengembangkan diri agar menjadi ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuni oleh dirinya.

#Pertama: Maksimalkan Perpustakaan Kampus

Setiap kampus—baik kampus besar, sedang, ataupun kampus kecil, biasanya akan memiliki perpustakaan. Perpustakaan yang disediakan, ada perpustakaan universitas ada perpustakaan fakultas. Biasanya, seorang dosen akan memiliki akses lebih ketimbang para mahasiswa dalam hal meminjam buku.

Sebagai contoh, bila seorang maahasiswa boleh meminjam 2 buku setiap peminjaman, dosen bisa mendapatkan 3 buku. Bahkan, bila penjaga perpustakaan ada yang dikenal, sang dosen bisa mendapatkan lebih dari 3 buku sekaligus untuk dipinjam. Hal lainnya, bila jangka waktu peminjaman buku bagi mahasiswa maksimal 1 minggu, seorang dosen bisa mendapatkan jangka waktu yang lebih lama dari seorang mahasiswa.

Tentu saja, keberadaan fasilitas perpustakaan bagi seorang dosen harus dimaksimalkan. Sehingga sebagai seorang dosen, dirinya bisa mengakses banyak literatur untuk dibaca—baik sebagai sumber refrensi mengajar, meneliti, ataupun untuk keperluan lainnya. Dengan memaksimalkan perpustakaan kampus, dijamin pengetahuan dosen akan meningkat signifikan.

Ingat, setelah meminjam buku di perpustakaan, tugas selanjutnya ialah membaca secara seksama buku yang telah dipinjam. Karena, apalah gunanya meminjam buku di perpustakaan, bila setelah itu buku hanya ditelantarkan begitu saja sesampainya di rumah. Tentu saja, tak ada artinya buku yang dipinjamnya.

Membaca buku bagi seorang dosen, bukan perkara mudah. Apalagi, bagi seorang dosen yang telah berkeluarga, memiliki anak, atau bahkan memiliki aktivitas lain seperti berdagang, menjadi ustadz yang harus berkeliling untuk berceramah, dan lain sebagainya. Membaca, akan menjadi satu medan jihad yang teramat sulit bagi seorang dosen.

Tak mengherankan—khususnya bagi dosen yang sedikit malas membaca, selama lima tahun mengajar sumber rujukan buku yang digunakan untuk mengajar itu-itu saja, tanpa ada perubahan. Bayangkan saja, bila selama lima tahun dirinya menggunakan buku yang sama, sementara ilmu pengetahuan berkembang sangat dinamis. Tentu, apa yang diajarkan akan menjadi sesuatu yang tak relevan dengan kondisi kekinian.

Lantas, bagaimana cara agar buku-buku yang telah dipinjam mampu kita baca?

Tak ada kata lain, kecuali memaksa diri kita sebagai seorang dosen untuk membaca. Karena, tak ada jurus ataupun tips yang bisa digunakan agar seorang dosen mau membaca, kecuali memaksakan diri untuk membaca. Bila timbul perasaan malas untuk membaca, maka paksakan diri kita untuk membaca.

Semakin kuat diri kita memaksa untuk membaca, Insya-Allah buku-buku yang telah dipinjam di perpustakaan kampus, bisa kita baca secara tuntas. Dengan demikian, memaksimalkan perpustakaan kampus harus sepaket dengan usaha untuk membaca. Maka dari itu, sebagai seorang dosen, mari kita maksimalkan perpustakaan kampus untuk meminjam buku, kemudian membacanya dengan seksama setelah buku tersebut dipinjam.   

#Kedua: Bergabung dengan Asosiasi

Bergabung ke dalam asosiasi dosen itu penting bagi seorang dosen. Dimana, dengan bergabung ke dalam asosiasi dosen, setidaknya kita akan memiliki networking yang baik dengan kolega kita sesama dosen. Sehingga dengan adanya networking, karir kita sebagai dosen akan semakin melejit. Selain itu, mungkin keahlian yang kita miliki bisa dipromosikan oleh kawan kita kepada orang lain ataupun lembaga lain yang membutuhkan keahlian yang kita miliki.  

Sepengetahuan saya banyak asosiasi dosen yang ada di Indonesia—baik yang bersifat rumpun keilmuan ataupun bersifat kefakultasan. Misalnya, ada Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Persaudaraan Dosen Republik Indonesia (PDRI), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), dan lain sebagainya.

Sebagai seorang dosen, tinggal kita pilih, mau bergabung dengan asosiasi dosen yang seperti apa. Setelah bergabung, maka ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Dengan aktif, maka kita sebagai seorang dosen akan mendapatkan banyak manfaat—baik secara keilmuan ataupun secara networking pendorong karir kita sebagai dosen.

Tentu saja, bergabung dengan asosiasi bukan semata-mata hanya numpang naro’ nama di dalam struktur organisasi yang ada. Akan tetapi, bagaimana caranya kita bisa berkontribusi terhadap organisasi yang kita ikuti. Sehingga dengan bergabungnya kita ke dalam organisasi tersebut, keberadaan kita manfaatnya akan lebih terasa.

Perlu diketahui, dari organisasi dosen yang ada, biasanya kepengurusannya ada mulai dari pengurus pusat, pengurus daerah/wilayah, pengurus cabang, hingga pengurus ranting. Kita tinggal memilih, ingin aktif dan mau berkontribusi di tingkat mana—tentu saja yang tidak mengganggu aktivitas utama kita sebagai seorang dosen.

Biasanya, kegiatan—mulai dari kegiatan yang bersifat seremonial, seminar, ataupun rapat-rapat organisasi, waktunya akan fleksibel. Artinya, waktu yang digunakan akan mengikuti waktu para anggotanya. Apalagi, bila ditelisik semua anggota dari asosiasi tersebut adalah dosen, bisa dipastikan waktu yang digunakan akan menyesuaikan dengan waktu luang di luar kampus.  

Maka dari itu, sebagai seorang dosen sangat disarankan untuk bergabung dengan asosiasi dosen—khususnya yang mampu mendukung keahlian dari keilmuan yang kita tekuni. Karena dengan bergabung, setidaknya akan menjadi salah satu ikhtiar untuk menjadikan diri kita sebagai seorang ahli di bidang keilmuan yang sedang kita tekuni. 

#Ketiga: Rajin Ajukan Proposal Hibah Penelitian

Setiap dosen memiliki jatah untuk mendapatkan hibah penelitian, mulai dari penelitian yang dibiayai oleh kampus di tingkat fakultas ataupun tingkat universitas, atau bahkan berupa hibah penelitian yang sifatnya bersaing, seperti di tingkat kementerian ataupun dari kalangan industri.

Ingat dan catat dengan seksama, hibah penelitian tidak ujug-ujug diberikan kepada peneliti, tanpa adanya proposal yang diajukan. Artinya, bila kita ingin mendapatkan hibah penelitian, maka kita harus rajin mengajukan proposal penelitian ke lembaga-lembaga yang menyelenggarakan penelitian. Biasanya, lembaga tersebut memberikan secara konsisten setiap tahunnya.

Tugas kita selanjutnya sebagai seorang dosen ialah, membuat proposal penelitian sebanyak-banyaknya, sesuai kemampuan dan rumpun keilmuan yang kita tekuni. Setelah proposal selesai dibuat, tinggal dikirimkan ke institusi yang sedang memberikan pembiayaan untuk penelitian yang bersangkutan.

Memang benar, untuk bisa tembus membutuhkan banyak latihan menulis proposal. Artinya, bisa dipastikan kita akan mengalami banyak penolakan dari proposal yang kita ajukan. Apalagi, terkhusus untuk hibah penelitian yang sifatnya bersaing. Dimana, kita akan bersaing dengan dosen-dosen yang ada di seluruh Indonesia, yang sama-sama mengirimkan proposal penelitian.

Bila kita sebagai seorang dosen rajin membuat proposal penelitian, dan kemudian kita kirimkan ke lembaga yang akan memberikan hibah penelitian. Walaupun ditolak, ya jadikan penolakan sebagai pembelajaran untuk kita. Sehingga kita bisa belajar untuk pembuatan proposal selanjutnya, agar tidak mengulangi kesalahan dari proposal sebelumnya.

Kalaupun kita mengalami penolakan yang kedua, ketiga, atau bahkan yang kesepuluh kalinya, tetap semangat untuk membuat dan mengajukan proposal kembali. Logikanya sangat sedernaha, semakin banyak kita menulis proposal penelitian untuk diajukan, akan semakin kita mengetahui proposal seperti apa yang diinginkan oleh pemberi hibah penelitian. Sehingga akan ada proses pembelajaran saat membuat proposal.

Selain hibah penelitian, ada juga hibah pengabdian masyarakat. Hibah pengabdian masyarakat, hampir sama dengan hibah penelitian. Pemberi hibah, ada dari kalangan internal seperti kampus tempat mengajar yang diberikan kepada para dosennya, mulai dari tingkat fakultas hingga tingkat universitas. Ada juga pemberi hibah dari kalangan eksternal, seperti kementerian dan industri.

Kita tinggal pilih saja, mau mengajukan hibah pembiayaan untuk pengabdian yang mana. Tentu saja, prinsipnya ialah tema yang diajukan harus sesuai dengan rumpun keilmuan yang sedang kita tekuni. Hanya saja, untuk pengabdian masyarakat biasanya berkelompok—mulai dari 2 orang, 3 orang, bahkan lebih dari 3 orang. Maka, tinggal kita pilih saja, lingkup keilmuan yang akan kita garap.

Dengan kita rajin mengajukan proposal hibah—baik hibah penelitian ataupun hibah pengabdian kepada masyarakat, secara tidak langsung menjadi ikhtiar bagi kita sebagai seorang dosen, agar menjadi ahli di bidang keilmuan yang sedang kita tekuni.    

Sumber: pixabay.com

Keuntungan Menjadi (Dosen) Ahli

Setelah kita sebagai seorang dosen membiasakan tiga hal yang telah dijelaskan sebelumnya, secara tidak langsung kita telah meng-ikhtiar-kan diri menjadi dosen ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuni. Menjadi dosen yang ahli, akan banyak manfaat yang didapatkan oleh diri dosen yang bersangkutan—baik manfaat langsung ataupun tak langsung.

Keberadaan manfaat menjadi dosen ahli, tentu saja bisa menjadi penyemangat bagi kita yang saat ini berstatus sebagai seorang dosen. Sehingga, kita yang saat ini memilih profesi dosen sebagai karir hidup, mau mengusahakan diri menjadi dosen yang ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuni.

Ya setidaknya, pilihan karir sebagai dosen tidak membuat kita menyesal di kemudian hari. Akan tetapi, pilihan menjadi dosen membuat diri kita riang gembira, karena menjadi keputusan yang paling tepat. Dimana, dengan memilih karir dosen, akan ada banyak harapan yang bisa digapai di kemudia hari.

Sebenarnya, banyak harapan atau keuntungan memilih profesi dosen—khususnya dosen yang ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuninya. Tetapi, saya hanya mengambil tiga keuntungan yang akan didapatkan, setelah dirinya ber-ikhtiar menjadi dosen yang ahli. Tiga hal tersebut, akan dijelaskan dalam penjelasan berikut.  

#Pertama: Memiliki Otoritas Keilmuan  

Tidak semua dosen memiliki otoritas keilmuan di bidangnya, akan tetapi otoritas keilmuan hanya akan dimiliki oleh dosen-dosen yang ahli di bidangnya. Untuk di Indonesia sendiri, seorang dosen dianggap memiliki otoritas keilmuan dengan beberapa parameter, antara lain:

Pertama, memiliki jabatan akademik Guru Besar atau Profesor. Profesor, merupakan jabatan akademik yang ada di Perguruan Tinggi. Biasanya, ide seorang profesor—baik berupa tulisan ataupun ucapan, akan menjadi rujukan masyarakat akademik ataupun non-akademik. Karena seorang profesor dianggap memiliki otoritas keilmuan di bidang tersebut. Otoritas keilmuan tersebut—khususnya di Indonesia, tentu saja salah satunya didapatkan dari penelitian yang dihasilkan.

Salah satunya ialah artikel yang diterbitkan oleh jurnal internasional yang bereputasi. Ingat, orang yang ingin artikel jurnalnya bisa dimuat di jurnal bereputasi sangat banyak. Tetapi, banyak juga yang ditolak, dan hanya orang-orang yang tulisannya dinilai ilmiah dan memiliki kebaruan, barulah bisa diterbitkan. Maka, tak mengherankan bila seorang profesor dianggap memiliki otoritas keilmuan bila dibandingkan dengan yang belum profesor, karena telah berhasil menerbitkan artikelnya di jurnal internasional bereputasi.    

Kedua, memiliki gelar akademik Doktor. Seorang doktor di Perguruan Tinggi dinilai memiliki otoritas keilmuan bila dibandingkan dengan dosen-dosen yang masih bergelar S2. Pemikiran tersebut, didasarkan bahwa untuk bisa lulus S3, seorang dosen bergelar doktor harus menyelesaikan disertasi—yang tentu sulitnya membuat sakit kepala tujuh keliling. Maka, tak mengherankan bila seorang dosen bergelar doktor akan memiliki otoritas keilmuan dibanding yang masih bergelar S2.

Apalagi, untuk saat ini program doktor untuk di Indonesia, sudah mewajibkan bisa hasilkan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi. Tentu saja, bertambahnya kewajiban tersebut, makin tak dapat disangkal lagi, bagaimana otoritas keilmuan seorang dosen yang bergelar doktor. Karena, untuk bisa tembus di jurnal internasional bereputasi membutuhkan usaha yang sangat ekstra.   

Ketiga, memiliki banyak karya buku. Karya buku dari seorang dosen, menjadi salah satu bukti bahwa dirinya memiliki otoritas keilmuan di bidang yang ditekuninya—baik buku diktat ataupun non-diktat. Mengapa bisa demikian? Karena, seorang dosen bisa menghasilkan satu buku, tentunya berkat membaca banyak buku.

Untuk membuktikan hal tersebut sangat gampang, tinggal dilihat daftar pustaka dari buku yang dihasilkan sang dosen. Sepengetahuan saya, satu buku bisa membutuhkan refrensi kurang lebih 50 buku. Dengan demikian, seorang dosen yang menghasilkan buku, berarti telah membaca kurang lebih 50 buku. Maka, pantas saja bila dirinya dikatakan memiliki otoritas keilmuan dari rumpun ilmu yang ditekuninya.  

Keempat, memiliki banyak penelitian. Nah, banyaknya penelitian yang dihasilkan oleh seorang dosen, menjadi salah satu bukti bahwa dirinya memiliki otoritas keilmuan dari rumpun ilmu yang sedang ditekuninya. Karena, tak semua dosen bisa menghasilkan banyak penelitian. Apalagi, penelitian yang didanai dari hibah bersaing, dengan dana yang cukup besar.

Dengan demikian, bila seorang dosen yang rajin mendapatkan hibah penelitian—baik penelitian internal kampus, eksternal kampus, ataupun dari industri, tak berlebihan bila dikatakan sebagai dosen yang memiliki otoritas keilmuan di bidangnya. Apalagi bila dikaitkan terhadap banyaknya dosen di Indonesia yang hanya suka mengaji, yaitu  mengajar dan menguji.

Kelima, memiliki artikel jurnal bereputasi. Nah, inilah yang paling sulit, dan bahkan menjadi salah satu batu sandungan bagi dosen yang ingin menjadi Profesor. Karena, banyak dari kawan-kadan dosen tersendat untuk menjadi Profesor, hanya gara-gara tidak memiliki artikel yang diterbitkan di jurnal bereputasi. Sehingga, membuat dirinya harus menelan ludah pahit untuk mendapatkan jabatan Profesor.

Maka, tidak berlebihan bila seorang dosen yang memiliki artikel ilmiah bereputasi disebuat sebagai dosen yang memiliki otoritas keilmuan. Karena, untuk bisa dimuat di jurnal yang bersangkutan, dirinya harus membaca banyak artikel jurnal, membaca buku, membaca perkembangan tema pengetahuan, hingga membuat kebaruan dari tulisan yang akan dihasilkan.

Bila ada yang bertanya ataupun komplen, dari mana dasar lima hal tersebut, yang kemudian seorang dosen dikatakan memiliki otoritas keilmuan di bidangnya. Tentu saja, itu dari hasil pengamatan saya secara kasap mata, setelah saya menjalani diri menjadi seorang dosen. Jadi, jangan ada yang bertanya ataupun komplen lagi ya, pokoknya titik segede’ masjid, hehehehe.

#Kedua: Popularitas Meningkat  

Secara otomatis, popularitas akan meningkat setelah seorang dosen mampu menjadi ahli—baik popularitas di lingkungan kampus, di luar kampus, ataupun di mata masyarakat dunia. Hal tersebut disebabkan, keahlian dosen yang bersangkutan mulai dikenal dan dirasakan oleh masyarakat, dari karya-karya yang dihasilkan dosen yang bersangkutan.

Selain itu, meningkatnya popularitas sang dosen bisa didapatkan dari adanya undangan di luar kampus, ketika ada isu-isu tertentu yang membutuhkan pandangan dirinya sebagai orang yeng memiliki otoritas keilmuan di bidang yang bersangkutan. Misalnya, undangan dari stasiun televisi, undangan radio, undangan seminar sebagai narasumber, dan lain sebagainya.   

Tentu saja, meningkatnya popularitas sang dosen, harus dipandang sebagai berkah dari ketekunan dirinya selama mendalami dan menekuni keilmuan yang menjadi bidang kajiannya. Sehingga, dirinya tak menjadi jumawa lantaran popularitasnya meningkat.

#Ketiga: Menambah Passive Income

Secara otomatis, bila diri kita sebagai dosen telah dipandang memiliki otoritas keilmuan di bidang yang kita tekuni, kemudian popularitas meningkat, maka secara otomatis akan meningkatkan passive income kita sebagai seorang dosen. Tentu saja, ini adalah keberkahan yang harus disyukuri oleh setiap dosen, ketika passive income yang didapatkan di luar kampus meningkat.

Kok bisa passive income meningkat?

Tentu saja bisa. Karena, secara otomatis setelah kita sebagai seorang dosen ber-ikhtiar agar menjadi ahli di bidang keilmuan yang kita tekuni, baik secara langsung ataupun tak langsung akan berdampak terhadap peningkatan passive income yang kita dapatkan setiap bulannya.  

Peningkatan passive income didapatkan, bisa ketika dirinya menjadi narasumber pada saat diundang seminar, ketika menjadi narasumber di stasiun televisi, ketika honorarium royalti buku dibagikan, menulis opini di media massa, dan lain sebagainya. Dan masih banyak, passive income yang didapatkan oleh seorang dosen yang dianggap ahli. Hal tersebut, saya dapatkan cerita dari dosen senior, di tempat saya melanjutkan Studi S3.   

Dan bahkan, ada beberapa perusahaan yang meminta seorang dosen menjadi komisaris di perusahaannya, disebabkan sang dosen dipandang ahli untuk mengurusi perusahaan yang bersangkutan. Hal tersebut banyak, tentu saja saya tak akan menyebutkan satu persatu. Karena, kurang etis bila saya sebutkan dalam tulisan ini.

Intinya, dalam tulisan ini saya hanya akan menyampaikan bahwa dengan memiliki ikhtiar untuk menjadi ahli, maka seorang dosen telah berusaha meningkatkan passive income yang dimlikinya. Sehingga dirinya tidak hanya mendapatkan honorarium dari kampus tempatnya mengajar.      

Sumber: pixabay.com

Setelah Ahli, Tak Lantas Lupa Tugas Utama

Perlu digaris bawahi bahwa setelah seorang dosen menjadi ahli, tak lantas lupa akan tugas utamanya sebagai seorang dosen. Dimana, tugas utama seorang dosen, bila mengacu pada tridharma perguruan tinggi ialah, tugas pengajaran, tugas penelitian, dan tugas pengabdian kepada masyarakat. Ketiga tugas tersebut, harus tetap dikerjakan oleh seorang dosen setiap semester. Karena, tujuan utama kita menjadi ahli di bidang keilmuan yang kita tekuni ialah, untuk melakukan transfer of knowledge dan sharing of knowledge terhadap peserta didik kita di kampus.

Bila ditemukan, seorang dosen setelah dirinya menjadi ahli, kemudian banyak undangan menjadi narasumber hingga membuat dirinya tak ada waktu mengajar di kampus yang telah membesarkan namanya, maka hal tersebut sangat salah dan sang dosen tak tahu berterimakasih. Karena tak seharusnya dosen yang telah menjadi ahli, melupakan tugas utamanya sebagai seorang pendidik.

Bukan hanya berkaitan dengan tugas mengajar, walaupun telah menjadi ahli seorang dosen harus tetap melaksanakan tugas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Karena penelitian dan pengabdian kepada masyarakat merupakan kesatuan dari tridharma perguruan tinggi yang menjadi kewajiban seorang dosen.

Intinya, bagaimana caranya kita sebagai seorang dosen harus mampu memanajemen waktu yang dimiki, antara kewajiban di kampus dengan kewajiban di luar kampus, setelah diri kita menjadi seorang dosen yang ahli. Sehingga, tugas-tugas yang menjadi kewajiban kita ke kampus dapat terselesaikan dengan baik.    

#Pertama: Tugas Pengajaran

Tugas pengajaran harus tetap dilakukan oleh seorang dosen, walaupun statusnya telah menjadi seorang dosen yang ahli dan kesohor di masyarakat. Tidak mentang-mentang telah menjadi dosen yang kesohor, lantas dikit-dikit kegiatan mengajar diserahkan ke asisten dosen. Kemudian, dirinya tak mau mengajar bila diberi jadwal  mengajar untuk mahasiswa S1. Maunya, diberi jadwal untuk mengajar mahasiswa S2 dan bahkan S3.

Menurut hemat saya, boleh saja tidak mengajar dengan meminta izin terlebih dahulu, tetapi ketidakhadiran harus diganti di lain waktu. Tentu, jadwal lain waktu yang mengisi tetap diri dosen yang bersangkutan, dan bukan asisten dosen yang masuk. Sehingga hak mahasiswa untuk mendapatkan pengajaran dari dosen yang bersangkutan bisa terpenuhi.

Selain itu, bila ada penawaran berbentuk pekerjaan di luar kampus, misalnya sebagai Dewan Komisaris, Dewan Pengawas Syariah, Pembina komunitas, ataupun yang lainnya, sebisa mungkin jadwal rapat ataupun pertemuan tidak bentrok dengan jadwal mengajar di kampus. Begitu juga dengan menghadiri undangan sebagai narasumber acara, sebaiknya tidak bentrok dengan jadwa di kampus.

Kalaupun terpaksa bentrok, dosen yang bersangkutan harus tetap mengganti di lain hari. Sehingga kewajiban mengajar sebagai dosen bisa terpenuhi. Selain itu, mahasiswa yang diajar juga tidak dirugikan disebabkan menggantikan di lain waktu. Dengan demikian, satu semester dosen yang bersangkutan tetap memenuhi batas minimal absensi kehadiran di kampus.

#Kedua: Tugas Pengabdian

Jangan mentang-mentang telah menjadi dosen yang ahli dan kesohor, lantas diri sang dosen tidak lagi mau melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ingat, tugas pengabdian kepada masyarakat merupakan kewajiban yang diamanatkan perundang-undangan. Maka dari itu, tak elok bagi seorang dosen bila meninggalkan tugas pengabdian kepada masyarakat, walaupun telah menjadi dosen ahli yang kesohor.

Kalaupun kegiatan di kampus telah padat, ditambah lagi dengan kegiatan di luar kampus—entah sebagai konsultan ataupun untuk mencari passive income, tugas pengabdian kepada masyarakat harus tetap ditunaikan oleh diri dosen. Carilah kegiatan pengabdian yang sekiranya bisa dikerjakan oleh seorang dosen yang telah memiliki jadwal yang cukup padat.

Misalnya, melakukan pengabdian di sekitar rumah—yang sekiranya bisa dilakukan oleh diri sang dosen. Banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari pemberdayaan ekonomi masyarakat, pembentukan mental masyarakat, pengajian di masyarakat, dan lain sebagainya. Intinya, buat saja kegiatan pengabdian kepada masyarakat di sekitar rumah, sehingga waktu untuk mengerjakannya bisa fleksibel.  

Selain sebagai amanat, tugas pengabdian kepada masyarakat adalah sebagai bentuk kepedulian dan implementasi ilmuwan. Sehingga, ilmu yang diajarkan di kampus kepada para mahasiswa, tidak berada di atas menara gading. Artinya, ilmu yang diajarkan harus tetap melihat realitas yang berkembang di masyarakat. Maka dari itu, penting bagi dosen yang sudah menjadi ahli untuk mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat.  

#Ketiga: Tugas Penelitian

Nah, tugas penelitian ini menjadi hal yang sangat penting bagi seorang dosen disamping tugas pengajaran dan tugas pengabdian kepada masyarakat. Biasanya, bagi dosen yang telah menjadi ahli—misalnya salah satu parameter ahli ialah telah mendapatkan jabatan akademik Guru Besar, membuat dirinya ogahogahan untuk melakukan penelitian.

Mungkin saja menurutnya, untuk apa melakukan penelitian sementara Jabatan Akademik Guru Besar telah didapatkan. Kan biasanya tugas penelitian untuk mengejar poin akademik. Sementara, jabatan akademik Guru Besar telah di tangan. Jadi, seperti tak akan ada gunanya lagi bagi dirinya untuk melakukan penelitian.

Tentu saja, hal tersebut merupakan pandangan yang keliru. Karena, Jabatan Guru Besar bukanlah akhir dari karir seorang dosen, walaupun memang tak ada jabatan yang lebih tinggi lagi setelah Guru Besar. Harusnya, jabatan Guru Besar menjadi pintu pembuka untuk menjadi akademisi yang benar-benar mampu menjaga otoritas keilmuan. Sehingga, setelah dikukuhkan sebagai Guru Besar, otoritas keilmuan yang ditekuninya semakin meningkat.

Meningkatnya otoritas keilmuan, salah satunya didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh diri dosen yang bersangkutan. Maka dari itu, tugas penelitian menjadi sangat penting bagi seorang dosen, walaupun dirinya telah menjadi seorang dosen yang ahli. Kalau bisa, setiap semester ataupun setiap setahun, seorang dosen (walaupun) dirinya telah menjadi ahli harus tetap menghasilkan penelitian.  

Penutup

Demikianlah ikhtiar yang harus dilakukan oleh seorang dosen, demi menapaki diri untuk menjadi dosen yang ahli di bidang keilmuan yang sedang ditekuni. Dengan menjadi dosen yang ahli, harapan yang paling normatif ialah keberadaan kita sebagai dosen akan lebih bermanfaat—baik untuk mahasiswa yang kita ajar ataupun untuk masyarakat secara luas.

Tinggalkan komentar