Menjadi Dosen Boleh Sampingan, Tapi Tidak Dengan Membaca

Sumber: canva.com

Profesi dosen terkadang hanya menjadi aktivitas sampingan, terkhusus bagi dosen yang mengajar di Perguruan Tinggi Swasta. Sedangkan aktivitas utamanya, bisa sebagai seorang pengusaha, politikus, penulis, penerjemah, ustadz, dan lain sebagainya.

Lha, apakah ada yang salah dengan aktivitas tersebut?

Tentu, tidak ada yang salah, dan sah-sah saja. Misalnya, dosen yang memiliki keahlian di bidang manajemen dan keuangan, sembari nyambi sebagai konsultan dan perencana keuangan; seorang dosen yang ahli di bidang agama, sembari nyambi sebagai da’i atau penceramah; dosen yang memiliki keahlian menulis, nyambi sebagai ghostwriter/co-writer; dan lain sebagainya.

Malahan, dengan nyambi bekerja di luar kampus, akan menambah keuangan yang dimiliki oleh dosen. Karena, bila fokus menjadi dosen di kampus, terkhusus bagi dosen di perguruan tinggi swasta yang tak memiliki jabatan struktural, rasa-rasanya sulit untuk memiliki tambahan keuangan.

Hanya saja, bila Anda memutuskan untuk menjadi dosen sembari nyambi kerja di luar kampus, Anda harus memiki komitmen. Salah satunya ialah komitmen untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan utama. Karena menjadi dosen boleh sampingan, tapi membaca tidak boleh dijadikan sebagai aktivitas sampingan.

Dampak Bila Dosen Tak Membaca

Ada pameo yang menyebar di kalangan mahasiswa, hingga dipegang teguh secara gigih oleh para dosen. Kalau saya sendiri menganggapnya sebagai norma yang tak tertulis, hehehehe…! .

Dan norma tersebut dipatuhi serta dijalankan. Karena, bila melanggar norma tersebut, konsekwensinya mahasiswa bisa tidak akan mendapatkan nilai. Waduhhh….! Kejam juga ya….!

Hayo, kira-kira apa norma tersebut?

Penasaran kan…?

Baik, saya akan membocorkan norma tersebut. Norma tersebut berbunyi, Pasal Pertama: Dosen selalu benar di mata mahasiswa; Pasal Kedua: Bila yang salah (melanggar) dosen, maka akan kembali ke Pasal Pertama.

Sumber: canva.com

Nah, ini bisa menjadi pasal karet lho, bila semua dosen memiliki pandangan seperti itu. Terkhusus, bagi dosen yang tak mau membaca, atau menjadikan kegiatan membaca sebagai sampingan.

Kemudian, sang dosen (baca: yang tak mau membaca) bertemu dengan mahasiswa yang keranjingan membaca kala mengampuh mata kuliah di kelas. Bisa dipastikan, sang dosen akan kalah refrensi sumber bacaan. Atau mungkin, dosennya yang diberi matakuliah oleh mahasiswa yang keranjingan membaca.

Nah lho, bila yang terjadi seperti itu, kan habis muka dosennya. Tapi, bila Anda masuk ke dalam tipe dosen “yang menganggap selalu benar di mata mahasiswa”, ya gak ada masalah. Asalkan memiliki muka tebal saja di depan mahasiswanya tatkala dipermalukan gara-gara tak rajin membaca, hehehe…!

Dan masih banyak lagi dampak yang akan diterima bagi dosen yang tak rajin membaca. Dampak yang sangat fatal, sang dosen akan mengajar asal-asalan.

Apa itu Mengajar Asal-Asalan?

Dosen yang menjadikan kegiatan membaca sebagai sampingan, bisa dipastikan dirinya akan mengajar asal-asalan.

Apa yang dimaksud dengan mengajar asal-asalan?

Mengajar asal-asalan ialah kegiatan mengajar hanya dijadikan rutinitas yang asal berjalan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, asal bisa masuk kelas dan tandatangan absen, asal memberikan materi walaupun tidak relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan asal memberikan nilai kepada mahasiswa walaupun tanpa dikoreksian dengan benar.

Saya tambah lagi ya, asal mencorat-coret tugas-tugas mahasiswa walaupun tanpa dasar teori ilmu yang melatarbelakanginya, dan asal-asalan lainnya yang tak dapat saya sebutkan satu persatu hingga rinci.

Bila seorang dosen mengajar asal-asalan, maka mahasiswanya pun akan lulus asal-asalan. Mahasiswa yang lulus asal-asalan, bisa dipastikan juga akan menjadi sarjana asal-asalan.

Apa itu sarjana asal-asalan?

Sarjana asal-asalan ialah seorang sarjana yang asal lulus dan ikut diwisuda. Setelah itu, dirinya akan menganggur dan kesulitan mencari kerja. Penyebabnya sederhana, yaitu dirinya tak memiliki kompetensi untuk bisa bersaing dengan sarjana yang asli sarjana.

Jadi, bila dihipotesiskan, maraknya pengangguran dari kalangan sarjana salah satu penyumbangnya adalah dosen yang menjadikan membaca sebagai kegiatan sampingan.  Sehingga peserta didiknya yang menjadi korbannya.

Data Pengangguran Dari Kalangan Terdidik

Kalangan terdidik merupakan orang-orang yang mendapatkan pendidikan di lembaga pendidikan formal. Dimana, dirinya mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dengan fasilitas yang diberikan oleh lembaga pendidikan tempatnya menimbah ilmu.

Pendidikan sendiri merupakan pembiasaan yang diperoleh dari proses pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan, yang harapannya mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bila ingin mengetahui lebih lengkap pengertian pendidikan, salah satunya dapat merujuk Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar  dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Adapun jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Harusnya, kalangan terdidik menjadi lokomotif sumber daya manusia dalam hal menciptakan lapangan pekerjaan. Baik dirinya sebagai seorang karyawan ataupun wirausahawan.

Dan sayangnya, kalangan terdidik yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan formal, setiap tahunnya menyumbangkan pengangguran untuk bangsa ini yang cukup tinggi.

Tahun 2018 BPS (Badan Pusat Statistik) merilis bahwa pengangguran terbuka yang disumbangkan oleh Perguruan Tinggi, yang terdiri dari Akademi/Diploma dan Universitas Per Agustus berjumlah 950.533 orang. Sedangkan untuk tahun 2014, Per Agustus berjumlah 688.660 orang. Bila dipersentasekan, berarti terjadi peningkatan sekitar 38% selama 5 tahun.

Sumber: BPS

Ada dua penyebab dirinya tak memiliki pekerjaan, Pertama: dirinya telah berusaha mencari pekerjaan sekuat tenaga, namun tetap saja tak mendapatkan pekerjaan; Kedua, dirinya memang tak mau mencari pekerjaan karena faktor malas.

Dari beberapa informasi yang saya terima, walaupun ini membutuhkan penelitian yang lebih mendalam, pengangguran yang disumbangkan oleh lembaga pendidikan formal disebabkan kurangnya kemampuan yang dimiliki oleh seorang sarjana.

Kemampuan tersebut, bisa berbentuk kemampuan softskill dan hardskill. Kemampuan softskill adalah kemampuan tambahan yang dimiliki oleh seseorang, seperti kemampuan komunikasi, kemampuan melobi, kecakapan sosial, kepemimpinan, dan lain sebagainya.

Kemampuan hardskill merupakan kemampuan di bidang yang ditekuni hingga dirinya dikatakan sebagai seorang ahli, seperti keahlian membuat laporan keuangan bagi yang menekuni bidang akuntansi, keahlian mengajar bagi yang menekuni dunia keguruan, keahlian menulis bagi yang menekuni dunia jurnalistik, dan lain sebagainya.

Salah satu faktor yang membuat sarjana tidak memiliki kemampuan, baik berbentuk hardskill ataupun softskill, disebabkan dosen yang mengajar asal-asalan. Seperti yang telah saya sampaikan di awal, penyebab dosen mengajar asal-asalan, karena dirinya menjadikan kegiatan mengajar sebagai sampingan.

Berarti, dapat dihipotesiskan bahwa dosen yang tidak membaca, akan menyumbangkan pengangguran yang tinggi bagi bangsa ini. Maka dari itu, mari kita bersepakat untuk tidak bersepakat bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan sampingan.

Dengan kita bersepakat, maka kita akan menyadari bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat penting. Bahkan, menjadi kebutuhan yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, sesibuk apapun kegiatan yang kita miliki.    

Perguruan Tinggi Penyumbang Terbanyak

Setelah saya membaca rilis data pengangguran yang dikeluarkan oleh BPS, ada hal yang sangat mengejutkan. Membuat kerutan kening berlipat-lipat. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ternyata, jumlah pengangguran yang disumbangkan oleh kalangan terdidik dari Perguruan Tinggi, lebih banyak bila dibandingkan dengan pengangguran dari orang yang tidak bersekolah (tidak terdidik).

BPS merilis data, untuk tahun 2018 jumlah pengangguran dari kalangan orang yang tidak sekolah Per Agustus berjumlah 31.774 orang. Sementara, di tahun 2014 Per Agustus berjumlah 74.898 orang. Malahan, untuk orang yang tidak bersekolah mengalami penurunan sebesar 135%.

Sementara, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, jumlah pengangguran yang disumbangkan oleh perguruan tinggi Per Agustus berjumlah 950.533 orang untuk tahun 2018. Sedangkan untuk tahun 2014, Per Agustus berjumlah 688.660 orang. Bila dipersentasekan, terjadi peningkatan sebesar 38% selama 5 tahun.

Sumber: BPS

Semoga, dengan melihat data tersebut kita tidak mengambil kesimpulan bahwa lebih baik tidak belajar di lembaga pendidikan formal dari pada hanya menjadi pengangguran terdidik.

Akan tetapi, kesimpulan yang kita ambil, lebih kepada: mengapa lembaga pendidikan formal bisa menyumbangkan pengangguran untuk bangsa ini? Terkhusus, untuk pendidikan tinggi.

Padahal idealnya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, akan semakin mudah dirinya mendapatkan pekerjaan. Tapi kok malah sebaliknya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin sulit mendapatkan pekerjaan.

Tentu, ini akan menjadi PR besar bagi kita yang saat ini berprofesi sebagai dosen. Bagaimana caranya, profesi kita sebagai dosen, mampu berkontribusi untuk memperkecil sumbangan pengangguran dari kalangan perguruan tinggi.

Bila saya boleh memberikan saran, lagi-lagi saya akan menekankan terhadap pentingnya seorang dosen memiliki kemauan untuk rajin membaca. Jadikan membaca bukan hanya sebagai kewajiban untuk mengajar. Akan tetapi, jadikan membaca sebagai kebutuhan hidup kita sebagai seorang dosen.

Bersepakat Saling Mengingatkan

Ingat, dosen juga manusia. Jadi, bila suatu saat dosen merasa males untuk membaca, berarti hal tersebut manusiawi. Maka dari itu, agar rasa males tidak terjangkit terus-menerus, ada baiknya kita sebagai seorang dosen membuat kesepakatan untuk saling mengingatkan.

Misalnya, kita sebagai dosen menanyakan kepada kolega kita yang juga dosen berkaitan dengan buku apa hari ini yang sudah dibaca; pun sebaliknya, kita juga minta diingatkan kepada kolega kita yang juga seorang dosen perihal kegiatan membaca.  

Dengan kita saling mengingatkan berkaitan dengan membaca, maka membaca akan menjadi kebutuhan nutrisi bagi otak kita sebagai seorang dosen. Sehingga, sesibuk apapun kegiatan kita di luar kampus untuk mencari tambahan uang, mengajar akan tetap menjadi profesi utama.

Dengan demikian, akan berlaku logika: dosen yang menjadikan membaca sebagai kegiatan utama (bukan sampingan), secara otomatis profesi dosen akan menjadi profesi yang akan diseriusinya. Walaupun sesibuk apapun kegiatan di luar kampus.

Itulah, mengapa kita harus terus saling mengingatkan sesama dosen untuk menjadikan membaca sebagai kebutuhan utama kita. Karena, dosen yang rajin membaca, pasti dia akan mengajar dengan penuh keseriusan. Pun sebaliknya, dosen yang tak rajin membaca, dirinya akan mengajar secara asal-asalan.

Selamat membaca…!

Tinggalkan komentar