Pengembangan Diri VS Peningkatan Kinerja

Apa sih sebenarnya kaitan antara pengembangan diri dengan peningkatan kinerja?

Tentu saja, pengembangan diri dengan peningkatan kinerja memiliki kaitan yang sangat erat. Dimana, kinerja akan meningkat, bila produktivitas kerja yang dimiliki meningkat. Salah satu cara meningkatkan produtivitas ialah dengan pengembangan diri.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kinerja seseorang tidak akan meningkat, bila dirinya tak mau mengembangkan diri. Oleh karena itu, pengembangan diri menjadi salah satu kunci utama, bila ingin meningkatkan kinerja.

Dan perlu diketahui bersama, bukan hanya kinerja yang akan meningkat, bila seseorang mampu mengembangkan diri secara berkesinambungan. Dampak lain, misalnya: skill makin berkembang, penguasaan problem solving makin baik, dan yang tak kalah penting ialah income akan semakin maknyus.

Ibaratnya, sekali mendayung bukan saja satu atau dua pulau, akan tetapi banyak pulau yang bisa dilampaui. Maka, jangan bingung dan banyak mikir untuk mengembangkan diri. Karena manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri.  

Toh, walaupun pengembangan diri harus mengeluarkan biaya, yakinlah biaya tersebut akan tergantikan setelah kita mampu menyelesaikan proses pengembangan diri. Tentunya, setelah kita mengimplementasikan atas apa yang kita terima saat melakukan proses pengembangan diri.

Mungkin saja, dua atau tiga tahun ke depan akan terbayarkan nominal biaya yang telah kita keluarkan. Sehingga, tak perlu merasa rugi untuk mengembangkan diri. Dan tahun selanjutnya, akan menjadi buah keuntungan bagi kita, atas pengorbanan biaya yang telah kita keluarkan.

Bila kita masih ragu untuk mengembangkan diri, karena takut kehilangan uang yang ada di genggaman. Berarti, kita belum memahami sepenuhnya antara pengembangan diri dengan peningkatan kinerja. Karena belum paham, maka perasaan takut yang akhirnya mendatangkan keragu-raguan.

Agar keraguan tidak makin berkembang, maka saya akan coba ajak Anda sebagai pembaca tulisan di blog ini, untuk memahami keterkaitan antara pengembangan diri dengan kegiatan investasi. Dengan memahami keterkaitan antara keduanya, diharapkan keputusan untuk mengembangkan diri akan cepat terealisasi.

Sumber: https://pixabay.com/

Pengembangan Diri Adalah Investasi

Mungkin saja, selama ini kita mengenal investasi hanya berupa saham, reksadana, deposito, emas, ataupun lainnya yang berbentuk materi. Padahal tidak demikian, ada jenis investasi yang berbentuk non-materi, yang sepertinya jarang diketahui banyak orang, salah satunya ialah pengembangan diri.

Mengapa pengembangan diri digolongkan ke dalam bentuk investasi?

Karena dalam pengembangan diri juga memiliki dua hal yang sama dengan investasi, yaitu memungkinkan mendatangkan keuntungan berlipat-lipat bila dilakukan dengan baik, dan kemungkinan akan mengalami kegagalan bila tidak dilakukan dengan baik.

Artinya, dalam melakukan pengembangan diri juga akan dihadapkan kepada untung dan rugi. Karena akan berujung pada untung atau rugi, maka kegiatan pengembangan diri juga masuk ke dalam bentuk investasi.

Hanya saja, orang yang melakukan investasi, tentu saja tidak berharap mengalami kerugian. Agar tak mengalami kerugian, biasanya seorang investor akan melakukan mitigasi risiko atas risiko investasi yang kelak akan dihadapi.

Adanya mitigasi risiko dengan baik, tentu saja dampak kerugian akan mampu terhindari dengan baik, dan bahkan kadang sudah bisa terbaca di awal. Bila kerugian mampu dihindari dan terbaca dengan baik, berarti investasi yang dilakukan kemungkinan besar akan mendatangkan keuntungan besar di kemudian hari.

Demikianlah persepsi baru yang harus kita ketahui bersama, bahwa pengembangan diri masuk ke dalam kategori investasi. Sebuah investasi, yang nilainya Insya-Allah akan berlimpat ganda di kemudian hari. Oleh karena itu, jangan ragu dan bimbang untuk berinvestasi melalui pengembangan diri.

Dan, bila kita coba telisik lebih mendalam, sebenarnya pengembangan diri merupakan proses belajar tanpa henti. Tung Desem Waringin, seorang motivator yang telah menginspirasi banyk orang, mengatakan dalam bukunya yang berjudul Life Revolution: “Mari kita terus belajar dan tingkatkan diri. Karena ruang terbesar di alam semesta adalah ruangan untuk meningkatkan diri dan manfaat diri”.

Tung Desem Waringin seolah hendak berpesan kepada kita, bahwa pengembangan diri bagi manusia sangat tak terbatas. Semakin baik seseorang mengembangkan diri, akan semakin banyak peluang yang akan didapatkan ke depannya.

Sementara, seseorang yang tak mau melakukan pengembangan diri, bisa dipastikan akan tertinggal dari kawan-kawannya, baik ketertinggalan di bidang kualitas maupun kuantitas hidup. Misalnya, ketertinggalan di bidang karir, keuangan, pendidikan, dan lain sebagainya.

Agar tak mengalami ketertinggalan, sudah seharusnya kita mengambil tindakan untuk melakukan pengembangan diri sebisa yang kita lakukan. Apa saja yang bisa kita lakukan saat ini, maka kita lakukan hal tersebut.  

Bila hari ini kita baru bisa melakukan jenis pengembangan diri yang bersifat gratisan, maka lakukan saja apa yang bisa kita lakukan. Dan, jangan lupa mengalokasikan pendapatan yang kita miliki, untuk melakukan pengembangan diri yang berbayar.

Mengapa kita harus mengagendakan jenis pengembangan diri yang berbayar?

Karena, jenis pengembangan diri yang bersifat gratisan biasanya hanya menerangkan berkaitan dengan kulit suatu ilmu pengetahuan saja. Sedangkan isi dari suatu ilmu pengetahuan, biasanya akan diberikan melalui jenis pengembangan diri yang berbayar, misalnya pelatihan, seminar, dan lain sebagainya.

Intinya, sebagai manusia kita harus mau melakukan pengembangan diri, baik yang bersifat gratisan maupun berbayar. Harapannya, dengan melakukan pengembangan diri, akan berdampak pada peningkatan kualitas kinerja yang kita miliki.

Sementara peningkatan kualitas kinerja, merupakan satu-satunya faktor yang dapat meningkatkan pendapatan yang kita miliki. Karena, dengan adanya peningkatan kualitas kinerja yang kita miliki, karir akan menjadi lebih mudah meningkat dan gaji pun akan tertarik perlahan-lahan.

Nah, bila kita sudah memahami bahwa pengembangan diri sama dengan investasi, apakah kita masih ragu untuk mengembangkan diri? Tentu, jawabannya tidak akan ragu. Karena, mana mungkin seseorang akan memiliki kualitas hidup lebih baik bila tidak mau mengembangkan diri.

Semakin dini kita berinvestasi dalam pengembangan diri, akan semakin baik dampak yang akan diberikan terhadap kualitas hidup yang kita miliki di kemudian hari. Maka dari itu, lakukanlah pengembangan diri sedini mungkin. Agar, manfaatnya dapat kita rasakan dalam jangka waktu yang cukup lama.  

 

Sumber: https://uangonline.com/

Paksakan Diri Keluar Dari Confort Zone

Ingat, mengembangkan diri, baik pengembangan diri yang dilakukan melalui inisiatif pribadi ataupun inisiatif dari tempat kerja, sangat tidak menyenangkan hati. Atau bahkan, membuat kita frustasi karena kita harus mengubah kebiasaan yang telah melekat dalam keseharian kita.

Misalnya, hari Sabtu dan Minggu biasanya kita gunakan untuk beristirahat. Kemudian, disebabkan kita memutuskan mengembangkan diri dengan cara melanjutkan kuliah S2 kelas karyawan, membuat kita tak memiliki waktu libur. Karena harus masuk kuliah di akhir pekan.

Dari contoh di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pengembangan diri, baik yang kita lakukan atas kemauan diri kita sendiri ataupun sebagai tugas dari kantor, akan banyak menyita waktu yang kita miliki. Karena, kita akan mengalokasikan waktu yang kita miliki, untuk kegiatan pengembangan diri.

Tetapi, kita harus mampu menyadari bahwa pengembangan diri menjadi langkah utama yang harus kita lakukan, bila kita menginginkan adanya peningkatan kinerja. Karena, tidak akan mungkin kinerja meningkat, bila kita tak mau melakukan pengembangan diri.

Misalnya, Anda seorang dosen dengan pendidikan S2. Bila Anda tidak melakukan pengembangan diri dengan melanjutkan kuliah untuk jenjang S3, jabatan fungsional (jafung) akan terhenti di Lektor Kepala.

Anda tidak akan bisa mengajukan kenaikan jabatan fungsional, tanpa memiliki ijazah S3. Karena salah satu syarat untuk naik jenjang jabatan fungsional dari Lektor Kepala ke Guru Besar atau Profesor, ialah dimilikinya ijazah S3. 

Setelah kita memahami hal tersebut, mau tak mau kita harus memaksakan diri keluar dari confort zone, yang selama ini telah meninabobokkan kehidupan kita. Sehingga membuat kita malas untuk beraktivitas lebih berat dari aktivitas keseharian yang kita lakukan. Itulah, salah satu dampak dari keberadaan confort zone.

Sementara confort zone sendiri memiliki makna zona nyaman yang dimiliki seorang. Dimana, zona tersebut membuat dirinya betah berlama-lama dengan aktivitas keseharian yang dimiliki. Dan dirinya, sangat menghindari atas perubahan hidup yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.

Bila berbicara cofort zone, tak ada cara lain yang dapat kita lakukan, kecuali dengan cara memaksakan diri kita untuk keluar dari confort zone sekuat tenaga. Dan beri keyakinan pada diri kita sendiri, bahwa kita memiliki kemampuan untuk keluar dari confor zone.

Lakukan langkah pertama dengan penuh keyakinan, sebagai langkah yang akan menentukan masa depan kita menjadi lebih baik. Bila langkah pertama telah dilakukan, yakinlah bahwa akan tercipta langkah demi langkah untuk seribu langkah ke depannya.  

Satu hal yang perlu kita ketahui bersama, yang berat ialah mengawali langkah pertama untuk melakukan seribu langkah ke depannya. Setelah langkah pertama selesai dan berhasil, maka kita tinggal menyelesaikan langkah selanjutnya hingga mencapai seribu langkah.

Langkah selanjutnya, pengembangan yang dilakukan harus disusun dengan baik, terarah, dan terjadwal. Sehingga pengembangan diri yang kita lakukan, mampu memberikan dampak baik terhadap peningkatan kualitas diri kita, baik peningkatan skill ataupun ilmu pengetahuan.

Hanya saja, bila kita tidak mau keluar dari confort zone yang selama ini telah membuat kita nyaman, tentu selamanya kita tidak akan mungkin mampu meningkatkan kinerja yang dimiliki.

Bila kinerja tak mampu ditingkatkan, tentu saja banyak hal tak akan bisa ditingkatkan. Karir akan stuck, gaji tak akan meningkat, beban kerja menjadi lamban, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, mari paksakan diri untuk keluar dari confort zone demi meningkatkan kemampuan diri melalui pengembangan diri. Semakin diri ini berkembang, yakinlah kinerja yang kita miliki akan meningkat perlahan-lahan.      

Sumber: https://pixabay.com/

Mengeksplorasi Bentuk Pengembangan Diri

Seperti yang pernah saya sampaikan di beberapa tulisan sebelumnya, bahwa pengembangan diri ada yang berbentuk pendidikan formal seperti yang ada di sekolah ataupun perguruan tinggi, dan ada yang bersifat non-formal seperti pelatihan, seminar, stadium general, dan lain sebagainya.

Seiring perkembangan zaman, jenis pengembangan diri berbentuk pendidikan formal tidak banyak mengalami perubahan, semenjak dahulu hingga saat ini. Hanya saja, jenis pengembangan diri bersifat non-formal mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Bahkan, kehadiran internet membuat semua orang bisa mengakses apa saja di dunia maya. Hal tersebut, tentu saja berdampak semakin mudahnya seseorang untuk belajar secara otodidak. Karena semuanya tersedia di internet.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui bahwa jenis pengembangan diri di era digital seperti saat sekarang ini banyak macamnya. Jenis pengembangan diri tersebut, berbiaya murah-meriah. Bahkan, bisa dikatakan berbiaya Rp 0 rupiah, karena kita bisa akses menggunakan jaringan wifi kantor.  

Beberapa jenis pengembangan diri yang dapat diakses secara gratis, misalnya chanel youtube, blog pengembangan diri, website pengembangan diri, dan lain sebagainya. Siapa saja dapat mengembangkan diri, melalui sarana tersebut.

Jenis pengembangan diri yang ditawarkan melalui internet bermacam-macam. Bila berbentuk blog atau website pengembangan diri, biasanya berbentuk artikel, e-book, pdf, podcast, dan lain sebagainya.

Sementara melalui chanel youtube, bisa berbentuk ceramah ataupun animasi yang dibuat oleh pemilik chanel youtube. Materi yang disediakan, ada berbentuk tips, pengembangan diri, how to, dan lain sebagainya.

Selain yang bersifat gratisan, ada juga jenis pengembangan diri melalui internet yang berbayar. Misalnya, e-book premium, podcast premium, artikel blog premium, dan lain sebagainya. Kita baru bisa mengakses hal tersebut, setelah kita membayarkan sejumlah uang yang dipersyaratkan.   

Nah, dengan memahami hal tersebut, diharapkan kita bisa mengembangkan diri melalui jenis pengembangan diri di internet. Selain murah-meriah, kita bisa melakukan dimana saja dan kapan saja yang kita inginkan.   

Makin Berkembang, Kinerja Makin Meningkat

Semakin giat seseorang melakukan pengembangan diri, biasanya produktivitas kinerja akan semakin meningkat. Karena, saat dirinya melakukan pengembangan diri, akan berdampak langsung terhadap peningkatan skill, pengetahuan, pemahaman, problem solving, dan lain sebagainya, yang dimiliki oleh dirinya sendiri.

Hanya saja, tak semua orang memiliki kesadaran untuk melakukan pengembangan diri. Karena bagi sebagian orang, pengembangan diri sebenarnya hanya membuang-buang uang semata. Sehingga, untuk apa melakukan pengembangan diri.

Tentu saja, di era yang serba modern seperti sekarang ini, pemikiran seperti hal tersebut harus dihilangkan. Karena pengembangan diri masuk ke dalam kategori investasi. Tentu, manfaatnya akan bisa kita rasakan di kemudian hari.  

Kita sebagai manusia yang produktif, baik sebagai pebisnis ataupun profesional, harus mau melakukan pengembangan diri. Bila kita tak mau mengembangkan diri, bisa dipastikan kinerja yang kita miliki tak akan meningkat. Ketika kinerja tak meningkat, maka saat itulah kita hanya akan stuck di tempat.

Tentu saja, stuck-nya kita di tempat, akan membuat kita berjalan di tempat. Karena kita tak bisa mengembangkan apa yang kita miliki. Oleh karena itu, kita harus memiliki kesadaran diri bahwa semakin kita berusaha mengembangkan diri, maka kinerja yang kita miliki akan semakin meningkat.

Peningkatan kinerja, tentu saja menjadi pendorong yang sangat ampuh untuk meningkatkan segala hal dalam hidup kita. Maka, jangan ragu dan bimbang untuk melakukan peningkatan diri.

Sumber: https://pixabay.com/

Kerja Keras dan Kerja Cerdas

Terkadang, kita mendengar pameo dari para motivator, bahwa saat ini merupakan eranya orang-orang “bekerja cerdas”. Karena dengan bekerja secara cerdas, maka dirinya bisa menghemat banyak hal, khususnya waktu dan tenaga.

Bagi saya  sendiri, kerja cerdas tanpa dibarengi dengan kerja keras itu omong kosong. Pasalnya, secerdas apapun seseorang bekerja, bila tidak dibarengi dengan kerja keras, maka hasilnya akan nihil.

Dengan demikian, kita harus membuat kesepakatan bersama bahwa tak ada istilah kerja cerdas. Akan tetapi, yang ada adalah kerja keras yang dibarengi dengan kerja cerdas. Karena kerja keras dan kerja cerdas tidak boleh dipisah-pisahkan, dengan alasan apapun.

Adanya perpaduan antara kerja cerdas dan keja keras, maka seseorang tidak hanya akan mengutamakan tenaga semata dalam bekerja. Akan tetapi, dirinya akan memasukkan unsur-unsur kecerdasan saat bekerja.

Perpaduan antara kerja keras dan kerja cerdas, diharapkan akan menghasilkan kinerja yang terbaik. Sehingga akan berakibat pada peningkatan kinerja yang kita hasilkan. Oleh karena itu, kita harus bersepakat bahwa kerja keras dan kerja cerdas tidak boleh dipisah-pisahkan.     

Penutup

Demikianlah penjelasan singkat keterkaitan antara pengembangan diri dan peningkatan kinerja. Keduanya, akan saling melengkapi, dan akan memberikan sumbangsih besar terhadap kesuksesan kita di masa depan.

Dari tulisan singkat ini, dapat disimpulkan bahwa kinerja seseorang akan meningkat, bila dirinya mampu melakukan pengembangan diri dengan baik dan berkesinambungan.

Selamat mengembangkan diri dan selamat meningkatkan kinerja…!

Tinggalkan komentar