Pilihan Investasi Bagi Milenial, Agar Tak Menyesal di Hari Tua

Sumber: tribunnews.com

Generasi Milenial merupakan generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980-an hingga 2000-an. Generasi milenial dianggap unik, karena sangat dekat atau mahir dalam hal teknologi. Mereka lahir pada saat TV berwarna telah ada dan HP serta internet tersambung lancar.

Dari sisi umur, berarti  generasi milenial memiliki umur di kisaran 19 tahun hingga 39 tahun. Nah, bila umur salah satu dari kita berada di kisaran 19 tahun hingga 39 tahun, berarti masuk ke dalam Generasi Milenial.

Biasanya, generasi milenial sangat erat hubungannya dengan kegiatan yang sifatnya kekinian. Misalnya, gaya hidup kekinian, pakaian kekinian, potongan rambut kekinian, cara berbelanja kekinian, nongkrong di tempat tongkrongan kekinian, dan lain sebagainya.

Disebabkan banyak hal kekinian yang mau dicoba, membuat generasi milenial terkadang lupa untuk menyisihkan sebagaian pendapatannya. Baik pendapatan yang diperoleh dari bekerja bagi yang sudah bekerja, ataupun pendapatan yang diperoleh dari kedua orang tuanya bagi yang masih dalam jenjang studi (belajar).

Padahal, menyisihkan sebagaian pendapatan untuk menyiapkan hal-hal tak terduga di kemudian hari, sangat penting untuk dilakukan. Sehingga kita sebagai generasi milenial tak menyesal di hari tua. Karena penyesalan di hari tua tak akan ada gunanya.

Sumber: republika.co.id

Menyisihkan Pendapatan, Sebuah Kewajiban

Sebagai generasi milenial, bukan berarti kita dilarang nongkrong bareng teman-teman di tempat tongkrongan setiap weekend, memakai pakaian terkini, menggunakan HP terbaru, dan lain sebagainya. 

Hanya saja, bagaimana caranya pendapatan yang kita hasilkan selama sebulan, tidak semuanya dihabiskan untuk memenuhi gaya hidup kita sebagai generasi milenial. Akan tetapi, kita berusaha menyisihkan pendapatan yang diterima setiap bulan.

Atau bahkan, kita memisahkan terlebih dahulu ketika kita mendapatkan pendapatan di awal bulan. Kemudian, sisanya baru dihabiskan untuk memenuhi gaya hidup kita sebagai seorang milenial.

Berapa kira-kira uang yang harus dipisahkan bila kita mendapatkan pendapatan?

Banyak mazhab yang memberikan pandangan, berkaitan dengan uang yang harus dipisahkan setelah kita mendapatkan pendapatan bulanan. Ada yang mengatakan 30%, ada yang mengatakan boleh kurang dari 30%, bahkan ada yang mengatakan lebih dari 30%.

Menurut hamat saya, kita boleh menyisihkan berapapun uang dari pendapatan bulanan. Hal terpenting, pendapatan yang kita miliki telah mampu dikurangi dengan biaya hidup sehari-hari, ditambah dengan biaya lain-lain plus biaya tak terduga.

Maka, kelebihan itulah yang boleh kita pisahkan. Kemudian kita tabungkan atau investasikan ke dalam jenis-jenis investasi modern yang ada saat sekarang ini. Sehingga kita sebagai generasi milenial memiliki uang untuk berjaga-jaga, bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan di kemudian hari. 

Misalnya, kita memiliki pendapatan Rp 5.000.000 (lima juta rupiah) selama sebulan. Besar kebutuhan yang harus dikeluarkan selama sebulan, yang diperoleh dari biaya hidup dan biaya lain-lain serta biaya tak terduga sebesar Rp 4.500.000 (empat juta limaratus rupiah). Maka kita boleh memisahkan Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) setiap menerima pendapatan di awal bulan.

Nah, itu contoh sederhana menghitung kira-kira berapa jumlah uang yang harus dipisahkan setelah kita mendapatkan di awal bulan. Hanya saja, bila ada yang memiliki teknik lain, monggo silahkan digunakan teknik tersebut.

Intinya, kita sebagai generasi milenial harus mampu menyisihkan pendapatan yang dimiliki, untuk ditabung ataupun diinvestasikan. Sehingga kita sebagai generasi milenial tidak menyesal di kala tua.

Sumber: intisari.grid.id dan Canca.com

3 Bentuk Investasi Yang Bisa Dilakukan Milenial

Sebelum berinvestasi, ada baiknya kita paham terlebih dahulu terhadap seluk-beluk investasi yang akan kita tempuh. Sehingga kita bisa paham terhadap risiko yang ada dalam investasi tersebut.

Karena, sebagian besar investor gagal atau merasa tertipu, disebabkan dirinya tak paham akan seluk-beluk investasi yang akan diambilnya. Oleh karena itu, pemahaman awal terhadap sebuah investasi, akan mampu menghantarkan diri kita untuk bisa memitigasi risiko yang ada dalam investasi tersebut.

Dari kajian yang saya lakukan, setidaknya ada 3 jenis investasi yang bisa dilakukan oleh generasi milenial. Dan menurut saya pribadi, investasi ini memiliki risiko yang sangat kecil, antara lain: tabungan, deposito, dan reksadana.

Sumber: tempo.co

1.Tabungan

Tabungan merupakan simpanan di bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menggunakan syarat tertentu yang disepakati, dalam bentuk mata uang rupiah.

Tabungan tidak dapat ditarik menggunakan cek, bilyet giro, ataupun alat penarikan lainnya yang dipersamakan dengan hal tersebut. Dan tabunga hanya dapat ditarik menggunakan rekening tabungan dan mesin ATM.

Bila dikaitkan dengan kegiatan investasi, beberapa literatur tidak memasukkan tabungan sebagai media investasi. Karena tabungan bisa ditarik sewaktu-waktu, sehingga hal tersebut sangat bertentangan dengan filosofi dari investasi itu sendiri. Dimana, salah satu filosofi investasi ialah ditanamkan dalam jangka waktu tertentu.

Hanya saja, disebabkan tabungan menjadi salah satu media untuk menyimpan uang, maka saya masukkan tabungan sebagai bagian dari kegiatan investasi. Artinya, kita tabungkan dulu uang yang kita miliki, setelah cukup banyak uangnya barulah kita masukkan ke dalam bentuk investasi seperti deposito ataupun reksadana. Simpel kan…!  

#Cara Menabung

Cara menabung cukup gampang. Bawa saja Fotokopi KTP beserta sejumlah uang yang akan ditabungkan. Setelah itu, buatlah akun tabungan di bank yang akan dijadikan tempat kita menabung.

Setelah memiliki akun tabungan, maka tinggal kita isi setiap bulannya dari uang yang telah kita pisahkan. Kita harus konsisten untuk mengisi tabungan yang telah kita buat.

Niatkan dalam hati, uang yang ditabungkan tidak boleh diambil, dalam keadaan apapun. Sehingga uang yang ditabungkan tetap utuh. Kala jumlahnya semakin banyak, tinggal dialihkan ke dalam bentuk deposito ataupun reksadana.

Baca Juga: Gaji Pas-Pasan Bukan Kendala, Ini Tips Jitu Agar Punya Tabungan di Bank

Sumber: diskartes.com

2. Deposito

Depsosito merupakan salah satu bentuk simpanan berjangka yang ada di bank. Jangka waktunya, ada yang 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, atau 12 bulan. Deposito tidak dapat ditarik sewaktu-waktu. Hanya saja, setiap bank memiliki aturan yang berbeda-beda berkaitan dengan deposito.

Jumlah nominal deposito berkisar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah). Hanya saja, setiap bank memiliki aturan tersendiri berkaitan dengan jumlah nominal. Oleh karena itu, bagi kita yang ingin berinvestasi menggunakan deposito, tinggal disesuaikan saja dengan aturan yang ada di bank yang akan dijadikan tempat mendipositokan uang kita.

#Cara Investasi di Deposito

Setelah kita memutuskan untuk berinvestasi melalui deposito, maka sediakan sejumlah uang yang akan kita depositokan. Setorkan sejumlah uang yang akan didepositokan, dan jangan lupa menyediakan materai 6000.

Kemudian, pilihlah jangka waktu deposito yang akan kita gunakan, bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, atau 12 bulan. Setelah jatuh tempo, uang pokok deposito tinggal diambil beserta bunga (bagi bank konvensional) atau bagi hasil (bagi bank syariah).

Baca Juga: Investasi Deposito Juga Penting, Ini Tips Untuk Miliki Deposito 

Sumber: cnbcindonesia.com

3. Reksa Dana 

Menurut undang-undang Pasar Modal Nomor 8 tahun 1995 pasal 1, ayat (27), reksa dana ialah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal, untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek dari Manajer Investasi.

Untuk pengertian yang lebih mudah, reksa dana merupakan salah satu bentuk investasi yang dapat dilakukan oleh investor. Dana yang telah terkumpul, diletakkan dalam bentuk portofolio efek berupa saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau kombinasi, yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI).

#Macam-Macam Reksa Dana

Secara garis besar, reksadana itu dibagi menjadi empat macam, yaitu: Reksa Dana Money Market (MM), Reksa Dana Fix Income (FI), Reksa Dana Balance Fund (BF), dan Reksa Dana Equity Fund (EF).

Pertama, Reksa Dana Money Market (MM) atau yang lebih dikenal dengan reksa dana pasar uang, adalah reksa dana yang seluruh bentuk investasinya diletakkan di 100% efek pasar uang. Efek pasar uang, seperti deposito bank, SBI/Sertifikat Bank Indonesia, obligasi, sukuk, serta efek lain, yang batas waktu investasinya kurang dari satu tahun. 

Jenis reksa dana ini, memiliki tingkat risiko yang cukup rendah. Tentu, rendahnya risiko yang ada, berbanding lurus dengan rendah atau kecilnya keuntungan yang akan didapatkan. Biasanya, jenis reksa dana ini untuk investasi jangka waktu pendek di bawah 1 tahun.

Kedua, Reksa Dana Fix Income (FI) atau yang lebih dikenal dengan reksadana pendapatan tetap. Dimana, reksadana jenis ini fortofolio investasinya 80% bersifat utang (obligasi/sukuk), dan 20% sisanya pada portofilio lainnya seperti saham, pasar uang, dan lain sebagainya.

Reksa dana jenis ini, merupakan reksadana dengan tingkat risiko menengah. Karena, 80% dana diinvestasikan pada portofolio dengan risiko pengembalian cukup aman. Jenis reksa dana ini, biasanya diperuntukkan jangka menengah dan jangka panjang, sekitar 1-3 tahun, bahkan ada yang hingga 5 tahun demi mendapatkan return (pendapatan) yang baik.

Ketiga, Reksa Dana Balance Fund (BF) atau yang lebih dikenal dengan reksa dana campuran. Reksa dana jenis ini, merupakan bentuk reksa dana yang diinvestasikan dalam bentuk campuran antara saham dan hutang (obligasi/sukuk), dan jenis efek lainnya.

Jenis reksa dana ini, merupakan reksa dana dengan tingkat risiko di tengah-tengah, antara reksadana pendapatan tetap (fix income) dengan reksa dana saham (Equity Fund). Jenis reksa dana ini, biasanya diperuntukkan untuk tujuan jangka panjang, yaitu 3-5 tahun, demi mendapatkan hasil keuntungan yang cukup baik.

Keempat, Reksa Dana Equity Fund (EF) atau lebih dikenal dengan reksa dana saham, adalah reksa dana yang jumlah investasinya 80% fortofolio dalam efek saham.

Jenis reksa dana ini, memiliki risiko yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan tiga jenis reksa dana sebelumnya. Tapi, tingginya risiko yang ada, berbanding lurus dengan keuntungan yang akan diterima, jika investasi tersebut tumbuh positif. Biasanya, jenis investasi ini untuk jangka waktu 5 tahun ke depan.

#Reksa Dana Syariah dan Reksa Dana Umum

Bagi umat Islam yang ingin menerapkan nilai-nilai keislaman dalam berinvestasi, penting untuk mengetahui jenis investasi reksa dana. Karena, dalam reksa dana ada yang bersifat umum (konvensional) dan ada yang bersifat islami (syariah). Untuk itu, mari kita cari tahu, apa jenis reksa dana umum dan reksa dana islami/syariah.

Pertama, Reksa dana umum/konvensional adalah jenis reksa dana yang investasinya disalurkan kepada seluruh jenis efek yang ada, entah itu melanggar prinsip syariah atau tidak. Hal terpentingg, tidak melanggar ketentuan hukum yang telah ditetapkan  oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Kedua, Reksa dana Syariah/Islami merupakan reksa dana yang seluruh jenis efeknya mengikuti prinsip-prinsip syariah. Di mana, salah satu prinsip syariah yang harus diikuti ialah, dana investasi yang terkumpul tidak boleh diinvestasikan kepada perusahaan yang menerapkan prinsip ribawi/bunga, rokok dan non-halal lainnya, seperti perbankan konvensional, diskotik, perusahaan rokok, dan lain sebagainya. 

#Cara Ber-Investasi Reksadana

Sebenarnya, cara berinvestasi di reksa dana itu cukup mudah. Ini dari pengalaman saya ketika buka reksa dana pertamakali di bulan Desember 2015. Dan Alhamdulilla, secara akumulasi hingga artikel ini di-post-kan, tumbuh positif di angka 6%.

Bagi Anda yang ingin coba investasi di reksa dana, dapat mengikuti langkah-langkah berdasarkan pengalaman saya. Gampang dan gak ribet kok…!

Langkah Pertama, datang ke perusahaan sekuritas yang menyediakan jasa pembelian reksa dana. Atau, datang langsung ke salah satu manajer investasi yang legal.

Untuk perusahaan sekuritas sendiri, ada yang dimiliki oleh swasta, seperti: Bahana Sekuritas, BCA Sekuritas, Danareksa Sekuritas, dan lain sebagainya. Ada juga yang dimiliki oleh pemerintah, seperti: Dana Reksa Sekuritas, BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan lain sebagainya.

Dan perkembangan yang cukup mengembirakan, ada juga yang bersifat syariah, seperti: Mandiri Sekuritas Syariah, BNI Sekuritas Syariah, Panin Sekuritas Syariah, dan lain sebagainya.

Dan untuk manajer investasi, menurut data OJK (Otoritas Jasa Keuangan) ada sekitar 85 manajer investasi (MI). Beberapa contoh manajer investasi, seperti PT BNI Asset Management, PT Asset Management, Trimegah Asset Management, dan lain sebagainya.   

Langkah Kedua, daftar dan buka Rekening Dana Investor (RDI) atau Rekening Dana Nasabah (RDN) di salah satu perusahaan sekuritas yang ada. Dengan bank yang ditunjuk untuk menyimpan jumlah uang, yang akan diinvestasikan atau dibelikan reksa dana.

Kalau bisa, pilihlah perusahaan sekuritas yang menyediakan jasa biaya buy (beli) dan sell (jual) reksa dana yang biayanya kecil. Agar pokok investasi yang ada, tidak termakan oleh biaya. Kalaupun ada, yang 0% tak ada biaya buy dan sell.

Langkah Ketiga, pelajari akun virtual yang ada. Setelah mendaftar, maka akan diberikan akun virtual. Di akun virtual tersebut, Anda akan diberi akses untuk memilih Manajer Investasi (MI), dengan terlebih dahulu mempelajari prokpectus atau dokumen resmi perusahaan.

Anda dapat mengetahui secara lengkap, mulai dari latar belakang perusahaan, pendapatan perusahaan, hingga potensi perusahaan ke depan, dari prospectus yang ditampilkan.   

Langkah Keempat, transferkan uang ke Rekening Dana Investor (RDI) atau Rekening Dana Nasabah (RDN). Setelah Anda mentrasfer sejumlah uang, maka uang yang ditransfer akan tersimpan di dalam rekening tersebut, atau rekening virtual yang ada.  

Langkah Kelima, membeli reksa dana. Setelah melakukan transfer dan di rekening virtual (RDN/RDI) terisi uang yang cukup, maka kita tinggal memilih reksa dana yang diinginkan. Untuk harga per item reksa dana murah kok, ada yang Rp 100 ribu, Rp 250 ribu, dan Rp 500 ribu, hingga Rp 1 juta.

sumber: canva.com

Kalangan Milenial, Harus Segera Putuskan Berinvestasi

Bagi yang memiliki pendapatan bulanan minim, jangan banyak-banyak dulu untuk berinvestasi, Rp 300-Rp 500 ribu itu sudah cukup. Namun, harus dilakukan secara konsisten atau rutin, untuk menambah atau menyicil setiap bulannya.

Jika konsisten dilakukan 10 hingga 15 tahun ke depan, dengan kondisi ekonomi yang cukup baik, maka return-nya (hasil-nya) akan menunjukkan keuntungan yang positif.

Selamat memulai berinvestasi, baik melalui tabungan, deposito, ataupun reksa dana. Intinya, kita harus terus menambah setiap bulannya, dari jenis investasi yang telah kita putuskan. Insya-Allah, kita sebagai kalangan milenial tidak akan menyesal di hari tua, kala kita memiliki sejumlah investasi yang cukup untuk membiayai hari tua.

Sekali lagi saya ucapkan, selamat berinvestasi…!

Tinggalkan komentar