WFH Malah Membuat Dosen Makin Tak Produktif

Akibat wabah Virus Corona yang sedang melanda Indonesia, membuat hampir seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia memberlakukan pembelajaran di rumah (Home Learning) dan bekerja dari rumah (Work From Home).

Bila dilihat secara kasap mata, memang bekerja di rumah seolah-olah sangat mengasyikkan dan menyenangkan—itu mungkin dulu sebelum adanya Virus Corona. Selain mengasyikkan, kita bisa mengerjakan berbagai macam hal berkaitan dengan tridharma perguruan—wabil khusus untuk penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Ternyata, setelah menjalankan kegiatan Work From Home yang kemudian masyhur dengan sebutan WFH, bukannya malah tambah produktif dan mengasyikkan, akan tetapi malah bertambah tak produktif dan menjenuhkan. Pasalnya, selama berada di rumah kita tak bisa fokus mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan utama kita.

Bayangkan, baru saja melakukan kegiatan belajar online dengan mahasiswa, tetiba anak datang minta digendong; baru saja mengetik beberapa alinea, istri mengejutkan dengan membawakan gorengan yang sangat lezat, pastinya saya menghentikan kegiatan menulis karena tak dapat berpaling dari kelezatan gorengan yang dibuatkan istri; baru saja mengetik, tetiba anak datang minta nonton youtube di laptop; dan masih banyak gangguan lainnya.

Tentu saja, saya akan menghentikan kegiatan mengetik di depan leptop. Tak mungkin saya hiraukan anak saya, tak mungkin saya hiraukan istri saya, tak mungkin saya hiraukan panggilan-panggilan yang memanggil saya, dan lain sebagainya.

Lantas, saya menjadi heran kala membaca berbagai macam status, mulai dari status di WhatsApp (WA), Facebook (FB), Instagram (IG), dan lain sebagainya. Rerata para pengguna medsos memberikan tips agar bisa produktif selama WFH. Hal mendasar yang menjadi pertanyaan, apakah tips tersebut esensinya bentuk perlawanan terhadap dirinya atau memang telah berhasil menjalankannya.

Maksud saya begini, apakah tips yang mereka berikan merupakan bentuk ke-frustasi-an mereka menghadapi kinerja yang kurang produktif selama menjalankan WFH. Sehingga, mereka membuat tips seolah-olah dirinya mampu menjaga produktifitas selama berada di rumah. Wallahu a’lam, apakah memang seperti itu.

Atau memang, meraka telah mampu menjaga produktivitasnya selama menjalankan WFH. Kalau memang mampu menjaga produktivitas selama WFH, dan bahkan mampu meningkatkank produktivitasnya, itu patut kita contoh. 

Tapi, bagi saya sendiri, menjaga produktivitas seperti kegiatan sehari-hari sebelum ada Virus Corona, rasa-rasanya sangat berat. Apalagi meningkatkannya, tentu akan lebih berat lagi. Makanya, saya kerjakan sebisanya saja, apa-apa yang menjadi kewajiban saya, seperti kewajiban mengajar online, kewajiban kuliah S3 yang saat sekarang sedang dijalankan secara online juga, mengerjakan editan naskah, nulis naskah. Semuanya, saya kerjakan sebisanya saja, agar tidak setres.

Sumber: https://www.finansialku.com

Intinya Bisa Bertahan, Walau Tak Produktif

Bagi saya, meningkatkan produktivitas di tengah-tengah Wabah Corona yang melanda Indonesia, rasa-rasanya sangat mustahil—seperti yang telah saya ungkap sebelumnya. Apalagi, bagi kita yang saat ini berada di zona merah. Saya sendiri berpandangan, bertahan di tengah-tengah Wabawah Corona sudah Alhamdulillah.

Artinya, fokus kita saat sekarang ini ialah meningkatkan pertahanan, agar kita tidak ikut terkena Virus Corona yang semakin meningkat setiap harinya. Sehingga, kita menjadi pemanang dari terjangkitnya Virus Corona yang sedang melanda Indonesia. Karena mampu menyelamatkan diri kita, keluarga kita, tetangga kita, bahkan masyarakat di sekitar kita.

Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua pertahanan yang harus terus dijaga agar keberadaan Virus Corona tak masuk ke dalam tubuh kita dan keluarga kita. Sebagai sebuah upaya untuk menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Setidaknya, adanya lilin di tengah-tengah kegelapan, terhitung ada sebuah usaha untuk menerangi kegelapan yang ada. Sehingga situasi yang ada tidak makin gelap. Akan tetapi, paling tidak secercah cayaha dapat memberikan ketenangan bagi kehidupan kita sebagai seorang dosen.

Pertahanan Pertama: Bertahan Secara Fisik dan Mental

Pertahanan utama bagi kita agar terhindar dari Virus Corona ialah pertahanan fisik dan Mental. Tentu saja, informasi berkaitan dengan hal tersebut, saya peroleh dari bahan bacaan, tips yang diberikan oleh para pakar kesehatan yang saya tonton di televisi, dan lain sebagainya.

Untuk mendapatkan pertahanan fisik yang bagus, kita disarankan mengkonsumsi makanan yang sehat dan teratur, konsumsi air minum dijaga—minimal 2 liter per hari, menambah asupan vitamin—mulai dari vitamin A, C, D, E, mineral, dan iodium.

Vitamin tersebut diperoleh dari sayur-sayuran, buah-buahan, dan berbentuk suplemen lainnya yang dibeli di toko. Disamping mengkonsumsi hal tersebut, dianjurkan juga menambah madu. Karena, madu merupakan salah satu suplemen yang membuat tubuh menjadi lebih fit. 

Selain menambah asupan vitamin dan madu, juga disarankan meminum empon-empon atau rimpang-rimpangan. Konon, bahan-bahan yang bisa dibuat bumbu ini, bisa menambah daya tahan tubuh dan membuat tubuh tetap menjadi fit.

Beberapa rimpang-rimpangan yang disarankan untuk dikonsumsi, antara lain: kunyit, temulawak, jahe, sereh, kayu manis. Ada juga yang menambahkan dengan kayu manis dan lemon. Setelah bahan-bahan terkumpul secukupnya, barulah direbus.

Seluruh vitamin, rebusan rimpang-rimpangan, madu, dan penambah suplemen lainnya, disarankan diminum setiap hari. Tujuannya, agar daya tahan tubuh meningkat. Ketika daya tahan tubuh meningkat, diharapkan virus corona tak berani datang pada tubuh kita. Oh iya, jangan lupa untuk berjemur di bawah terik matahari setiap pagi—katanya sekitar jam 10 itu bagus untuk nambah vitamin D.

Perlu diketahui, untuk melakukan pertahanan secara fisik, tentu akan menambah cost (biaya) pengeluaran sehari-hari. Dimana, yang selama ini kita tidak mengkonsumsi vitamin C secara teratur dalam bentuk suplemen, demi menjaga daya tahan tubuh kita membelinya.

Kemudian, yang selama ini kita tidak pernah mengkonsumsi rimpang-rimpangan, demi menjaga daya tahan tubuh dari Virus Corona, kita merelakan diri membelinya. Dan berbagai macam keperluan lainnya, demi meningkatkan daya tahan tubuh kita, kita harus membelinya.

Hal yang menjadi pertanyaan, melakukan pertahanan secara fisik ternyata dapat berdampak terhadap ketahanan keuangan. Bayangkan saja, WFH ini telah diberlakukan dari bulan Maret, diperpanjang ke April, dan dari beberapa prediksi di beberapa kanal berita online, wabah Virus Corona ini puncaknya akan terjadi di bulan Juni, ada juga yang mengatakan September, dan lain sebagainya.

Ya Allah…! Dapat dibayangkan, berarti kita masih harus melalui WFH di bulan April, Mei, hingga Juni, yaitu sekitar 2,5 bulan lagi. Berarti, kita masih harus mengkonsumsi pertahanan tubuh untuk 2,5 bulan ke depan. Kalau 2,5 bulan Corona masih beredar, berarti harus ditambah lagi jumlah bulannya.

Mau tak mau, kita harus melakukan pertahanan secara fisik, walau harus menambah cost pengeluaran keuangan. Pertimbangannya sederhana, lebih baik mengeluarkan uang lebih, apa cepat terjangkit Virus Corona.  

Tentu sajawabannya sangat sederhana, bagi kita yang akalnya masih sehat, pasti akan berpikir lebih baik mengeluarkan uang lebih untuk menambah pertahanan tubuh, dari pada terjangkit Virus Corona disebabkan kondisi fisik yang tak stabil.

Karena, kesehatan merupakan investasi yang paling penting dalam kehidupan kita. Bila kita sehat, Insya-Allah apa saja bisa kita jalankan. Tapi sebaliknya, bila penyakit sudah menjangkit diri kita, maka kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Malah, harta benda yang ada akan habis untuk kita gunakan berobat.

Maka dari itu, mari bersama-sama kita pertebal pertahanan kesehatan yang kita miliki. Sehingga dengan mempertebal ketahanan kesehatan, paling tidak menjadi salah satu ikhtiar bagi kita untuk bisa melawan ganasnya Virus Corona. 

Selanjutnya ialah pertahanan secara mental. Pertahanan secara mental juga penting dilakukan oleh diri kita. Karena, percuma kita melakukan pertahanan secara fisik, tetapi secara mental kita tak melakukan pertahanan. Tentu saja, bila kita tak mampu menjaga mental, akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik kita.

Maka dari itu, pertahanan secara mental sangat penting untuk kita lakukan. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga kestabilan mental, antara lain: lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan, hindari diri untuk tidak setres, kerja enjoy di rumah, hindari membaca berita-berita yang menyeramkan tentang Virus Corona—boleh membaca tapi sekadarnya saja, dan lain sebagainya.

Bila kita mampu menjaga pertahanan secara fisik dan mental, Insya-Allah kita akan mampu membentengi diri kita dari wabah Virus Corona. Maka dari itu, mari kita jaga pertahanan fisik dan mental kita, agar terhindar dari Virus Corona.       

Pertahanan Kedua: Bertahan Secara Keuangan

Pertahanan secara keuangan ini cukup penting bagi kita yang saat sekarang ini berstatus sebagai dosen—khususnya dosen swasta. Karena, dengan adanya WFH, maka dosen-dosen swasta yang ada di Indonesia tidak dapat melaksanakan tugas di luar kampus. Karena, secara umum dosen-dosen swasta memiliki side jobe.

Alasannya sangat sederhana—mengapa dosen swasta memiliki side jobe. Bisa karena gaji yang diberikan oleh yayasan kecil, mengisi waktu lowong yang tidak terpakai mengajar, sebelum menjadi dosen telah memiliki side jobe, jadi dosen hanya ikut-ikutan saja, dan mungkin masih banyak alasan lainnya.

Nah, setelah diperlakukan WFH dengan tetap melaksanakan Home Learning, bisa dipastikan dosen—khususnya dosen-dosen swasta kehilangan pendapatan di luar kampus. Dengan hilangnya pendapatan di luar kampus, maka selama WFH hanya mengandalkan transferan gaji dari kampus tempatnya mengajar—yang mungkin hanya numpang lewat saja, hehehehe.

Tentu saja, dosen—khususnya dosen swasta, dengan diberlakukannya WFH, telah kehilangan berbagai pendapatan di luar pendapatan ngajar di kampus tempatnya ngajar. Sehingga, hal tersebut membuat pertahanan keuangan yang dimiliki akan sedikit oleng.

Atau bahkan, bagi yang banyak memiliki cicilan, akan merasakan puyeng tujuh keliling. Karena tak tahu, bagaimana cara membayarkan cicilan, disebabkan passive income yang biasa dapatkan dari luar kampus, tiba-tiba ter-Stop, karena adanya kebijakan WFH.

Tentu saja, bagi dosen swasta dengan jumlah tabungan yang menebal di ATM, WFH tak akan menjadi kendala. Mungkin, dirinya tinggal mengambil kapan saja diperlukan ke ATM, sejumlah uang yang dibutuhkan. Hanya saja, kalau terlalu lama WFH, jumlah tabungan di ATM bisa dipastikan akan makin menipis. Ujung-ujungnya, akan ludes juga, hehehe.  

Tetapi, mau tak mau kita harus tetap melakukan pertahanan secara keuangan. Karena bertahan secara keuangan, adalah pertahanan yang cukup penting dan menjadi urat nadi kehidupan. Tak mungkin kita akan melakukan pertahanan secara fisik dan mental, bila ketahanan keuangan yang kita miliki terganggung.

Oleh karena itu, bagi dosen—khususnya dosen swasta yang saat ini banyak kehilangan passive income di luar ngajar di kampus tempatnya ngajar, mari tetap bersemangat untuk memaksimalkan ikhtiar agar bisa tetap bertahan secara keuangan.

Sumber: https://www.digination.id

Agar Bisa Bertahan, Dosen Harus Tetap Produktif

Sekali lagi, untuk tetap bisa bertahan secara keuangan, maka dosen harus tetap produktif mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Karena, tak akan mungkin kita sebagai seorang dosen bertahan melawan corona, bila tidak memiliki ketahanan keuangan yang cukup baik.

Salah satu cara menjaga ketahanan keuangan ialah dengan cara tetap produktif mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepada diri kita, baik tugas dari kampus ataupun di luar kampus, yang bisa kita kerjakan di rumah.

Misalnya, kita tetap harus melaksanakan kewajiban mengajar di kampus tempat kita mengajar walaupun secara online, tetap membuat laporan kegiatan mengajar secara online ke bagian akademik tempat kita mengajar, tetap mengisi ceramah melalui daring bila bisa dilakukan, dan lain sebagainya.

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kita tak usah berpikir untuk meningkatkan produktivitas kinerja sebagai seorang dosen, di tengah-tengah meningkatnya Wabah Corona di Nusantara ini. Bisa bertahan saja melawan Wabah Corona yang semakin meluas, sudah Alhamdulillah.

Oleh karena itu, agar kita bisa bertahan melawan Corona—dengan menjaga pertahanan fisik dan mental serta pertahanan keuangan, setidaknya kita harus tetap melaksanakan dua hal. Sehingga kita bisa tetap bertahan melawan ganasnya Virus Corona yang tak pandang bulu.

Pertama: Tetap Produktif Mengerjakan Tugas Utama

Sebagai seorang dosen, tentu saja dengan diberlakukannya WFH dengan sistem Home Learning, membuat kita sebagai dosen bertambah malas. Karena, dengan melaksanakan Home Learning, sebenarnya telah menambah beban kerja dosen.

Dimana, dosen yang bersangkutan harus mengirimkan laporan mengajar ke bagian akademik, mengisi absensi, dan lain sebagainya. Belum lagi, memeriksa tugas-tugas mahasiswa yang dikirimkan secara online.

Tetapi, mau tak mau kita harus tetap mengerjakan hal tersebut. Sehingga dengan tetap mengerjakan tugas utama kita sebagai seorang dosen, yaitu tugas pengajaran, maka setidaknya bagian keuangan di kampus tempat kita mengajar, akan tetap mau mengirimkan gaji bulanan ke rekening yang kita miliki.

Selain tugas pengajaran, bila di semester ini kita memiliki jatah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang pembiayaannya telah cair (baca: dibayar oleh sponsor, baik oleh kampus tempat kita mengajar ataupun oleh lembaga di luar kampus), maka kita harus tetap mengerjakannya.

Tentu saja, melaksanakan tugas pengajaran secara online, mengerjakan laporan penelitian, dan mengerjakan laporan pengabdian kepada masyarakat di saat ada kebijakan WFH, sungguh tidak nyaman. Karena, dengan bekerja di rumah, akan banyak hambatan yang kita terima setiap harinya.

Namun, mau bagaimana lagi. Ingat, kalau kita tidak melaksanakan tugas utama kita selama WFH, mulai dari tugas pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, ditakutkan kampus tempat kita mengajar akan menghentikan pengiriman honorarium bulanan ke rekening kita masing-masing. Maka dari itu, mau tak mau kita sebagai dosen harus tetap produktif mengajar—sebisa mungkin yang kita lakukan.      

Kedua: Tetap Produktif Mengerjakan Side-Job

Terkadang, di tengah-tengah kesulitan, ada saja kemudahan yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita sebagai hamba-Nya. Maka, bila kita ditunjukkan kemudahan oleh-Nya di tengah-tengah kegiatan WFH untuk menghindari Wabah Corona, harus kita kerjakan semaksimal mungkin.

Misalnya, bila kita sebagai dosen yang memiliki keahlian berceramah, dan ada yang meminta kita untuk memberikan tausiah secara online, maka terima saja permintaan tersebut; bila kita sebagai dosen memiliki memiliki keahlian sebagai penulis, bila ada yang meminta agar kita menuliskan artikel di medianya, maka terima saja permintaan tersebut; dan lain sebagainya.

Intinya, bila ada side jobe baru yang dimintakan ke kita sebagai seorang dosen—yang sekiranya bisa dikerjakan, maka kerjakanlah. Kan lumayan, kalau dapat honor dari side jobe baru, yang dimintakan ke kita, akan semakin menambah pertahanan keuangan yang kita miliki.

sumber: https://pixabay.com

WFH Membuat Kita Malas, Tapi Jangan Bermalas-Masalan  

Kita harus jujur pada diri kita masing-masing, bahwa WFH demi menghindari Wabah Corona membuat kita malas. Karena selama melakukan WFH, banyak halangan dan rintangan yang datang kala kita mengerjakan tugas-tugas dari kampus tempat kita ngajar, dan tugas side jobe yang kita miliki. Mulai dari hal yang remeh-temah, hingga hal-hal lain yang membuat fokus kerja kita berantakan.

Walaupun WFH membuat kita malas bekerja, bukan berarti adanya WFH membuat diri kita jadi malas-malasan untuk bekerja. Seperti yang telah kita bahas bersama-sama sebelumnya. Kita paksakan diri untuk tetap semangat bekerja, dan jangan biarkan diri kita bermalas-malasan.

Ingat, musuh kita adalah Virus Corona yang tak kasap mata. Sehingga membutuhkan pertahanan yang kuat, mulai dari pertahanan fisik, pertahanan mental, dan pertahanan keuangan. Bentuk pertahanan tersebut tidak akan bisa dijalankan, bila kita bermalas-malasan di rumah.

Maka dari itu, yuk tetap semangat jalankan aktivitas tridharma pendidikan dari rumah, mulai dari pengajaran, penelilitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tentu saja, untuk kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, bahan-bahan yang akan dikerjakan dalam bentuk laporan, yang telah kita kumpulkan di rumah.

Sementara, bahan-bahan yang sekiranya mengharuskan diri kita keluar rumah, kita tunda terlebih dahulu. Fokus saja pada bahan-bahan yang sudah kita kumpulkan di rumah. Sehingga, kegiatan WFH yang kita jalankan, tak membuat diri kita bermalas-malasan selama berada di rumah.  

Dan, bila ada side jobe yang harus kita kerjakan, maka kita kerjakan sebisa mungkin. Ingat, tak usah berpikir untuk meningkatkan produktivitas di tengah meluasnya Wabah Corona, hal terpenting kita telah mengerjakan sebisa mungkin apa yang kita kerjakan. Sehingga kita tetap enjoy selama menjalankan WFH, dengan tetap menjaga pertahanan fisik, mental, dan keuangan keuangan.

Penutup

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga, Anda sebagai pembaca blog ini akan bersepakat dengan pandangan saya, bahwa kita sebagai dosen tidak usah meningkatkan produktivitas saat WFH. Tetapi, bisa bertahan melawan corona sudah Alhamdulillah.

Tentu saja, tidak meningkatkan produktivitas selama kegiatan WFH, bukan membuat kita bermalas-malasan kala berada di rumah. Karena bermalas-malasan, akan membuat strategi pertahanan selama berada di rumah menjadi amburadul.

Maka dari itu, yuk tetap semangat menjalankan WFH, dan semoga wabah Virus Corona akan cepat berakhir. Sehingga, kita bisa beraktivitas seperti sediakala.

 

 

Tinggalkan komentar